Gadis permen

Dulu aku kenal seorang wanita yang indah parasnya dan menyenangkan perangainya. Sekali waktu dia meminta permen padaku, tapi aku tak ada karena sudah lama tidak suka permen. Pada perjalanan pulang kusempatkan mampir ke warung untuk membeli segala jenis permen, siapa tahu dia meminta lagi maka bisa dia pilih yang paling disukai.

Esoknya benar dia menanyakan hal yang sama padaku untuk ke-dua kalinya, walau hatiku sangat girang tapi kubilang tak punya. Aku tak berani menunjukkan kegiranganku padanya, aku takut dia berpikir aku membeli permen itu untuk dia, walaupun benar adanya. Biar besok bila dia bertanya lagi akan kuberi.

Kali ini dia bertanya lagi, dan aku masih belum berani memberinya dengan alasan yang sama. Kupikir esok saja kalau dia bertanya lagi. Tapi tidak, dia tidak pernah bertanya lagi hingga kini. Permen-permen itu kutaruh saja akhirnya berserakan di meja.

Advertisements

Refleksi hangat malam hari

IMG_20170910_220711_234

Di samping remang lampu, bayangan pena ini menari-nari mengikuti lantunan kidung malam. Membelai tipis dari kejauhan wangi minyak kayu putih yang menguap hangat dari tungku aroma terapi di ujung ruangan. Malam ini telah terkondisikan semua indra untuk merasakan hangat. Secangkir teh hijau hangat dan selimut tebal tak ketinggalan.

Pelan-pelan kubenamkan pikiran, kujauhkan dari segala hiruk-pikuk keseharian. Kuhempas keras pikiranku untuk terbang tinggi bersama jiwa, hingga dapat melihat dunia lebih luas. Jauh terbebas dari dunia kecil yang tercipta oleh keseharian.

Continue reading

I’m too tired romantizing all the things about you

That dream was finally blown away today

When the dreamer decided to end all the effort, killing all the hopes and turning off all the signal. Nothing left to be desired, nothing gone to be chased. At the end of the day sun will rest and moon will rise like yesterday, today and tomorrow.