Kali ini kita bertemu lagi

Aku mengunjungimu lagi malam ini

Di atap gedung tinggi Ibukota
Dibingkai tulang-tulang baja penyangga
Dilatari kabut tipis yang menyelimuti horison sejak sore tadi

Aku memandangimu lagi malam ini
Semakin dingin
Semakin jauh
Semakin tak terengkuh

Aku menungguimu lagi malam ini
Masih di atas sana
Menjatuhi bumi dengan pancaran tenang

Selamat malam, rembulan

Jakarta, 6 Juni 2017

Langit

Seseorang bertanya tentang makna langit bagiku, sebuah pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab.
Bagiku langit begitu magis bukan karena ia tinggi, tapi karena kedalamannya. Begitu dalamnya hingga seakan semua imajiku mampu tenggelam menembusi awan, merenangi dalamnya langit dalam renungku.
Terkadang langit juga menawarkan drama lewat gugusan awan, kadang segaris tipis sepanjang horison, kadang bergumpal-gumpal seperti gula-gula kapas. Memberikan renda-renda emosi pada hatiku yang datar-datar saja. Saat langit biru cerah dengan awan tipis berlarian, rasanya terang, luas dan lega. Saat gumpalan mendung berkumpul menjelaga, aku ingat rumah, bau hujan, rasa takut dan kamu.

Kembalinya Imajinasiku

dandelion-bess

Rani, tahukah seberapa jauh imajinasiku melayang saat kamu tak di sini

Ia terbang tinggi mengikuti arah angin muson selatan

Menjadi saksi datangnya musim penghujan

Menghasut para peduka untuk meneteskan air mata dipinggir jendela

 

Tapi sebenarnya imajinasiku pergi bukan karena aku mau

Ia terbang mencari hadirmu

Mengiringi angin melewati sela-sela gedung bertingkat

Menyisiri pematang sawah dan mengayuni bunga-bunga tebu

Mentasbihkan namamu disetiap kelokan

Merintisi jejak-jejakmu di setiap tapak yang ia temukan

 

Kini Ia telah kembali

Setelah tujuh kali mengitari bumi

Ia tahu tak perlu lagi mencari

Karena kamu selalu di sini

 

Berlalu

wetmirror

Pas kemarin Rin jalan ke kamar mandi, dia menemukan rasa bersalah berkumpul di batok kepalanya. Sudah dicoba dibasuh dengan air, tapi tetap belum hilang juga. Sekali dicoba, dua kali, tiga kali sampai ke empat kali masih belum juga hilang.

Ok harus tenang, harus dengan kepala dingin. Rin mencoba menenangkan diri, ditatap tajam cermin lebar di depannya. Berusaha mengenali refleksi tubuhnya, ditelusuri mulai dari ujung rambut, turun ke dahi di mana semua rasa bersalah itu berkumpul, berlanjut ke mata di mana ada suatu kekosongan terlihat di sana. Kini pandangan Rin berhenti di ujung hidung runcingnya, berusaha menemukan sedikit petunjuk tetapi tak ada apa-apa di sana.

Continue reading