Aku punya ratusan atau bahkan ribuan filosofi soal langit, tapi kali ini ijinkan aku hanya ingin melihat dia yang jelas lebih indah daripada langit sore ini. 

Jendela

image from shutterstock

Ada sebuah jendela di mana saat orang memandang ke dalamnya maka akan terlihat sepasang kekasih yang saling memandang, tenggelam dalam lautan asmara. Dari jauh pun dapat terlihat temaram lampu kuning itu berbayang siluet sang mereka sedang menggenggam tangan satu sama lain. Mengisahi makna pertemuan dan mencumbui sisa-sisa malam, aura kehangatan itu membuar keluar lewat celah-celah jendela.

Bukan sekarang

Seringkali tubuh terbang

Terasa seperti dihempasi angin dari kepakan sayap yang menempel di sisi kanan dan kiri badan

Padahal jiwa yang melekat kuat saja tak mampu memutuskan

Apakah akan menghembus atau menahan nafas di dada

Waktu, beri kami waktu

Bagi sebagian orang rintik hujan terus saja turun membasahi jalan-jalan sepi Jakarta pukul 12 malam, turun beradu dengan aspal hangat, menguap mengaromai udara. Menebar melankoli bagi jiwa-jiwa sepi perantau yang berduyun-duyun berusaha memasuki alam mimpi.

Nuansa ibu kota yang lembab tak terasa sampai di sini, hanya terlihat dari jauh rintik hujan menjadikan jalan-jalan semakin memesona. Refleksi lampu-lampu jalan yang menguning sendu, ditemani guratan merah dari lampu belakang mobil yang terkadang masih saja lewat. Dari balik balkon kamar kami memandangi jalan-jalan mulai melengang, melupakan segala kesibukan yang besok akan terulang kembali.

“Kamu lihat di bawah lampu jalan itu? Lihat itu.”
“Yang mana?” Continue reading

Pesan pesan yang tak berbalas

Pernah beberapa dari kami pergi ke tanah seberang

Beribu-ribu mil kami tempuh

Pernah pula diriku dalam rombongan itu

Namun hanya sekian puluh kilometer saja

Namun kehadiran kami di sana tak berarti jua, sepertinya

 

Biasanya dalam sebuah perjalanan, sebagian dari kami akan kembali

Dengan membawa makna baru

Biasa kami sebut jawaban

Namun beberapa kali kami akan lenyap dalam sebuah perjalanan tanpa jawaban