Antara pendidikan dan pengembangan karir

Akhir-akhir ini saya sering membicarakan soal pengembangan diri dan karir atau bahasa Keren nya career and personal development. Walaupun baru-baru ini saya punya banyak kesempatan membicarakan hal ini, namun kalau ditarik benang merahnya ini bukannya topik yang asing. Dua persoalan pengembangan ini tidak jauh berbeda dengan topik pendidikan secara umum.

Banyak hal untuk mengatakan bahwa keduanya adalah tentang pendidikan, namun kacamata saya belum tentu sama dengan apa yang anda pikirkan saat ini. Menurut saya perubahan apapun itu haruslah diawali dengan kesadaran, baik kesadaran terhadap kondisi saat ini ataupun kesadaran tentang kebebasan untuk melakukan apapun terhadap kondisi tersebut. Inilah benang merahnya sebuah landasan berpikir kritis yang dulu saya pelajari saat kuliah tentang Pendidikan untuk kaum tertindas (Pedagogy of the Opressed). 

Meskipun dasar dari pedagogi kritis terlalu kiri untuk dibawa seutuhnya, namun dorongan agar terjadi dialektika dalam proses belajar adalah sesuatu yang powerful bagi siapapun. Oleh karena itu saya bawa konsep ini saat melakukan coaching walaupun tidak mudah dan tidak selalu efektif. 

Menuju perubahan

Saya sudah beberapa kali mengatakan soal kesadaran sebelum melakukan perubahan, namun sebenarnya bagaimana kita untuk bisa menuju ke sana. Tanpa mencoba membuat tulisan ini menjadi daftar langkah-langkah instan, ada empat fase penting dalam prosesnya.

Pertama adalah mengetahui. Pada tahap ini paling tidak perlu dijawab pertanyaan-pertanyaan berikut :

  1. Orang seperti apa diriku?
  2. Apa yang membuatku senang?
  3. Hal apa saja yang penting bagiku?
  4. Apa yang dibutuhkan karir/tujuan ini?
  5. Siapa saja yang terlibat dalam apa yang kulakukan?

Harapannya pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat memantik jawaban dan pertanyaan berikut untuk mengetahui hal-hal dasar tentang diri sendiri dan lingkungan sekeliling kita.

Ke-dua adalah memahami. Makna memahami saya rasa sudah cukup umum, apalagi jika dibandingkan dengan mengetahui. Akhirnya pada tahap ini kita harus mendalami kondisi saat ini, pertanyaan-pertanyaan berikut lalu dapat ditanyakan :

  1. Kenapa diriku ada di posisi seperti sekarang?
  2. Kenapa beberapa hal penting bagiku?
  3. Kenapa karir/tujuan ini membutuhkan hal-hal itu?

Tentu saja pada fase ini tidak terbatas terhadap pertanyaan kenapa, namun pada dasarnya pertanyaan apapun yang membantu untuk mendalami apa yang sudah kita ketahui.

Ke-tiga adalah menyadari. Dari banyak hal yang telah kita tanya, jawab dan gali, lalu bagaimana kita bisa menaruh diri kita di tengahnya. Menaruh diri lalu mengkontekstualkan pemahaman yang ada, mencoba mendapatkan pandangan luas terhadap kondisi saat ini. Bagaikan kita melihat papan catur yang bidak-bidaknya adalah diri kita dan berbagai pemahaman yang ada.

Apa pentingnya kesadaran ini? Ijinkan saya bercerita sejenak.

Setiap pulang sekolah saya perlu naik dua jenis angkutan umum berbeda, di mana angkutan yang pertama jumlah dan jam operasinya terbatas. Suatu sore angkutan pertama yang saya naiki berhenti ditengah jalan karena sopirnya tidak ingin melanjutkan perjalanan. Saat itu saya sangat bingung dan takut, karena sudah sangat sore dan yakin tidak ada lagi angkutan yang lewat. 

Pada saat itu untungnya ada satu lagi angkutan yang lewat, namun bukan itu inti ceritanya. Pada saat itu sebenarnya saya tahu jalan menuju pos angkutan selanjutnya, mungkin hanya 15-20 menit dengan berjalan kaki. Namun kenapa saya takut dan panik saat itu? Karena saya tidak sadar kalau saya bisa jalan kaki menuju pos berikutnya. Saya tidak mengkontekstualkan pengetahuan dan kondisi diri, akhirnya saya tidak melakukan apa-apa selain berharap.

Ke-empat adalah melakukan. Setelah menyadari bahwa kita bisa, berhak dan mampu melakukan sesuatu, kini saat nya untuk merumuskan apa yang perlu dilakukan dan tentu benar-benar melakukannya. Pertanyaan-pertanyaan bagaimana akan muncul di sini, dengan kesadaran yang ada tentu akan semakin tepat rumusan langkah-langkahnya berikut dengan niat yang semakin kuat.

    Saya memulai tulisan ini dengan sebuah dialog filosofis yang cukup dasar dan diakhiri dengan beberapa langkah praktis yang semoga mudah diikuti. Tentu saja ini semua hanyalah sebuah kerangka berpikir yang akhirnya bisa berubah, diperluas dan disesuaikan. 

Baca lebih lanjut :

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Critical_pedagogy

Premis awal

Premis dari cerita ini adalah apa yang akhirnya akan menjadi keyakinan bagi kita untuk memulai suatu perjalanan

Banyak orang yang mengatakan bahwa kehidupan ini adalah suatu perjalanan panjang yang akhirnya membutakan pelakunya akan sebuah tujuan. Memang harus diakui hal itu terjadi berkali-kali hingga akhirnya kita terlupa apa tujuan hidup sebenarnya.

Namun terkadang hanya diperlukan satu hal kecil yang akhirnya membuat kita tersadar dan terbang melayang tinggi sekali. Sangat tinggi hingga kita bisa melihat kehidupan dari atas, memaknai apa yang terjadi dari sudut pandang yang lebih haqiqi.

Ah, iya. Aku ingat…

Begitu kira-kira yang terucap setelah kesadaran itu datang dan premis awal itu teringat

21-22 July 2020
To commemorate the relaxing happiness

Orange

Suatu ketika di bulan yang sudah kulupakan
Di tahun yang aku rasa sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu
Di sebuah persewaan buku kecil di tepi kota yogyakarta

Satu buku itu mencuri perhatianku
Ada gambaran seorang wanita memakai gaun warna orange
Berdiri cantik sekali di tengah padang rumput temaram
Sambil membawa sekeranjang jeruk berwarna orange pekat

Aku terkesima
Sampul buku itu begitu pekatnya merasuki pikiranku
Ah, apa itu menilai buku dari sampulnya

Aku terkesiap oleh manisnya sampul itu
Ada intensitas yang dalam
Perpaduan antara sosok cantik yang gemulai diterpa angin dan
gambar latar yang hangat namun penuh misteri

Tak kalah menarik, judul buku itu
Gadis Jeruk

Sebuah kotak 40 meter persegi

Menulis bukanlah sesuatu yang asing bagiku, hanya saja kini kami saling terasing. Sudah berapa malam berlalu sejak terakhir kali waktu mempertemukan ketermenunganku dengan menulis. Tentu saja keterasingan dalam jangka waktu yang cukup panjang membuat kami tidak saling akrab.

Saat ini interaksi sosial tentu sangatlah minimal apalagi yang bersifat fisik, hal ini menyebabkan tidak adanya insentif bagiku untuk berpenampilan baik. Manifestasinya bisa bermacam-macam bentuknya, aku bisa saja memakan baju yang sama dari pagi hari sampai esok pagi. Kumis dan jenggot pun kubiarkan tumbuh semau mereka. Hal seperti ini berlanjut untuk banyak hal, seperti soal mandi dan bau badan.

Namun aku merasa suatu kontras yang sangat terasa pada saat akhirnya aku memutuskan untuk lebih bersih dan rapi. Seperti saat mandi pagi dan memakai kemeja rapi sebelum bekerja, ataupun saat kuputuskan untuk mencukur kumis dan jenggot. Sebuah kelegaan dan semangat baru muncul, terasa ada energi cerah yang memancar dari tubuhku. Seakan optimisme muncul lagi, karena itulah sebenarnya aku sangat suka memakai baju rapi saat bekerja di rumah.

Setelah aku merasakan sebuah kebangkitan lewat datangnya kesadaran yang sebelumnya terjabarkan, aku mengalami fase selanjutnya di mana kacaunya orientasi waktu. Di mana secara fisik waktuku bergeser 12 jam atau bahkan sudah disorientasi secara total, sedangkan pekerjaan tetap saja waktunya seperti biasa. Hal ini menyeretku pada penderitaan yang diam untuk waktu yang lama, bahkan sampai sekarang aku masih mencoba untuk memeranginya.

Akhirnya saat ini aku kembali lagi tersungkur pada bau badan, kumis yang tidak beraturan dan jadwal tidur yang awut-awutan. Ada banyak kesadaran baru yang aku temukan, namun akan kucari lain waktu untuk mendeskripsikannya.

Aku akan di sini saja

Sudah tujuh puluh tujuh hari sejak pertama kali Afi tinggal rumah kontrakan bedeng dempet empat di pojok Jakarta Barat. Rumah itu masuk ke dalam gang kecil, yang tetap saja terlihat muram walaupun di depannya terdapat masjid yang cukup ramai. Gang itu kecil kurang lebih sekitar satu meter, itu pun harus berbagi dengan saluran air di sebelah kiri yang senantiasa menawarkan suka ria tikus berlari kejar-kejaran. Tak akan ada orang sudi lewat jalanan itu kalau tidak karena terpaksa saja, paling juga satu dua motor yang tersasar masuk terjebak di tengah labirin gang kecil nan lembab itu.

Sudah pula Afi hapal dengan suara-suara yang di sekitar rumah itu, suara tetangganya yang pulang kerja setiap jam 1 malam; Bayi yang menangis 3 kali semalam setiap hari; Ataupun saat tetangga sebelah kirinya, si keparat botak bercinta dengan istri mudanya. Setiap malam dia berpikir, apa lebih baik dia pindah saja dari rumah itu. Tetapi selalu saja saat pikirannya melaju kencang mencari pilihan, akhir-akhirnya dia menyimpulkan untuk tetap tinggal. Apalagiā€¦

Apalagi di rumah ini dia bisa selalu bisa melihatnya, tipikal lelaki jawa yang tidak terlalu tinggi, sawo matang dan berambut hitam kelam. Selalu terkesima Afi melihatnya mondar-mandir setiap pagi mencari kunci rumah, atau saat malam berguling kanan dan kiri di atas ranjang karena tidak bisa tidur. Oh sudahlah, aku akan di sini saja, tekadnya.