Seperti awan

Seperti awan yang berarak di langit biru
Diterpa angin lembap yang berhembus dari utara
Aku ingin berjalan beriringan bersamamu
Dengan cinta yang menuntun tiap baris langkah

Seperti awan yang melukis di atas kanvas biru
Mengguratkan garis-garis indah di cakrawala
Aku ingin melewati masa-masa yang akan kita ingat dengan senyuman
Masa yang memenjara setiap setiap rasa kesedihan di dasar laut
Ketika candu bahagia bebas mengalir di tiap buluh vena dalam tubuh kita

Seperti awan yang menjadi jingga saat fajar tiba
Seperti awan yang menjadi jingga pula saat senja menyapa
Aku ingin awal indah yang kita mulai
Berakhir dengan indah pula di ujung nanti

Malam-malamku kini

Suatu malam (saat masih MI/SD) aku pernah bertanya pada Ayahku.
“Pa, Papa dulu kalau malam seperti ini ngapain? Maksudku saat tidak bermain atau belajar.”
Saat itu ayah menjawab dengan ringan.
“Ya, ngaji (membaca Al-Qur’an).”

Jawaban Ayah benar-benar menamparku, bukannya saat itu aku tidak pernah mengaji tetapi aku hanya mengaji saat mengikuti TPQ. Di sisi lain jawaban itu benar-benar di luar perkiraan, selama ini malam hari di keluarga kami hanya diisi dengan belajar, menonton tv atau terkadang jalan-jalan atau mengikuti yasinan rutin tiap Senin malam.
Bila aku menanyakan hal yang sama saat ini, mungkin jawaban Ayah bukan hanya menampar tetapi juga menohok ke ulu hati, malam-malamku kini tidak lagi diisi dengan belajar namun lebih banyak untuk jalan-jalan atau bermain computer games. Rasa haus akan kebahagiaan yang disebabkan oleh kelelahan bekerja diobati dengan hiburan-hiburan yang memberikan kesenangan dengan cepat namun tidak selalu membawa kebahagiaan dan ketenangan.
Sangat berat rasanya menggunakan waktu istirahat untuk membaca alquran, padahal kebutuhan akan kebahagiaan lebih mudah dipenuhi lewat ketenangan spiritual. Selain itu juga sebagai pemenuhan kewajiban sebagai umat beragama untuk mendekatkan diri pada tuhan.

Apa kamu merasakan luka di hari ini?

Berbeda dengan masyarakat Indonesia yang merayakan 17 Agustus dengan penuh suka cita, masyarakat jepang memaknainya dengan kenangan kelam yang menyedihkan. Pada bulan Agustus 1945 beberapa hari sebelum proklamasi dibacakan, dua kota besar Jepang luluh lantak oleh serangan mengejutkan Amerika. Saat itu pulalah perang dunia kedua telah usai untuk Jepang.
Hari ini setelah 70 tahun selesainya perang dunia kedua, majalah Nikkei mengangkat tajuk yang kurang lebih mengatakan “Setelah 70 tahun, Asia masih berusaha bangkit dari kehancuran”. Sangat menarik bila mengamati traumatik akan perang justru tidak dirasakan oleh bangsa kita, dan perang 70 tahun lalu nampaknya tidak menyisakan sedikitpun mentalitas perjuangan ataupun luka yang harus disembuhkan.
Pemenang memang sering lupa diri, dan yang kalah akan selalu bangkit untuk menang kembali. Bangsa kita adalah salah satu pemenang perang dunia kedua, namun mentalitas pemenang itu telah hilang ditelan hiruk pikuk pembangunan tanpa arah dan harga diri.