Talking about Qt vs HTML5 whitepaper

It was in the middle of midnight when I stumbled upon a white-paper comparing Qt QML app development with web app development. I like the idea to compare these two wonderful technology, however more I read the white-paper more I dislike it. I think it’s just another misleading marketing stun. Let’s dive down a bit on this white-paper titled Qt QML vs HTML5 – A Practical Comparison.

So in this whitepaper an Austrian company tasked a developer to build an Embedded Application using QT and HTML5, the developer had 160 Hours to build the QT version then another 160 Hours for the HTML5 version. The developer was experienced in HTML5 and C++ but had little experience on building QT/QML apps.

From this point please read the whitepaper before continuing this post, for complete context.

The result

I think there is one main misconception which leads to inappropriate comparison in this whitepaper.

The definition of Embedded Application; I would say embedded application would come in packaged and controlled target machine, like for webapp we can pick whichever browser our app work best. And for QT apps would mean which operating system and hardware platform the apps is targeted, so we can limit the build number to release. On both software stack or in embedded application generally, limiting target environment means less testing and less extra variable to take into account.

Continue reading

Provoking Thoughts

Plato menceritakan soal gurunya yang menggunakan pendekatan tidak nyaman dalam mengajarkan pemikirannya. Cara tersebut dalam ilmu filsafat barat dikenal sebagai socrates method, yang nantinya bakal berkembang menjadi proses dialektika yang banyak kita kenal sekarang.
Pada umumnya metode ini selalu diawali oleh suatu pemikiran, dari situ socrates akan bertanya terus menerus dengan hingga melemahkan pondasi dari pemikiran itu. Dari situlah berbagai bentuk kontradiksi dari pemikiran dan proses penalarannya dieliminasi satu persatu.
Dalam sejarahnya socrates suka menantang berbagai pemikiran yang sudah dipercayai keniscayaan nya oleh masyarakaat pada jamannya, mengajak dialog siapa saja dan di mana saja. Berusaha menyadarkan masyarakat pada jamannya bahwa yang ada disekitarnya bukanlah kebenaran mutlak, ada tugas manusia untuk menera kebenaran dengan logika.
Dewasa ini masih banyak topik-topik sensitif yang juga menarik dan harus kita pikirkan bersama, bukan untuk memberpihakkan kebenaran. Socrates method berguna bagi kita untuk menyikapi keadaan sekarang dengan logika yang jernih dan kritis kesegala arah.

Teknik makan sego kucing

angkiran2bmenu2bsego2bkucing2bjogja

Ada berbagai macam cara orang dalam hal makan-memakan, kali ini mari kita bahas cara orang makan nasi kucing alias sego kucing. Ada yang suka pakai piring, biasanya piring plastik kecil segede lepek. Saya juga pernah tahu orang makan langsung pakai tangan nggak pakai sendok, makan lahap sambil ambil gorengan nyap-nyup.

Sebenarnya pas sebelum makan juga macem-macem, pas milih sego-nya itu dibolak balik, ditimbang-timbang pakai perasaan. Kira-kira tujuannya untuk dapat bungkus yang paling gede, walaupun gak jauh beda asal dapat lebih. Setelah itu pas milih gorengan dibolak-balik juga sampai ketemu yang paling besar. Tapi tidak semua seperti itu, ada juga yang asal nyap-nyup ambil makan lhep-lhep sampai kenyang.

Balik ke cara makan lagi, ini lebih ke teknik makan sego kucing yang lebih lanjut. Ada yang kalau pengen makan dua bungkus, langsung ambil dua. Habis buka bungkus yang pertama, terus bungkus selanjutnya di-tumplekan ke yang pertama dibuka tadi. Teknik yang lain adalah kalau pengen makan dua bungkus, ambil bungkus pertama setelah habis buka bungkus selanjutnya di atas bungkus pertama sambil mentransfer gorengan dan sundukan sate yang masih tersisa.

Saya selama ini pakai teknik yang ke-dua dan tanpa piring, lebih rapi dan bungkusnya gampang dibersihkan. Untuk ritual pilih-pilih tergantung kondisi perut dan dompet saja, fleksibel.

Ngombene yo wedang jahe wae

Pindahan kerja

Resign dari sebuah pekerjaan bukanlah suatu hal yang mudah, paling tidak begitu menurut saya. Berkut adalah beberapa hal yang saya dapat dalam masa-masa tersebut :

1. Memutuskan untuk keluar dari zona nyaman

Hal berat pertama yang harus diputuskan adalah mengenai kesiapan untuk keluar dari zona nyaman dan berbagai implikasinya. Banyak yang mengatakan zona nyaman adalah salah satu pembunuh paling mengerikan, namun tak banyak yang mengatakan bahwa bukan berarti kita tidak dapat tumbuh dan berkembang di dalam zona nyaman. Di dalam zona nyaman pun sebenarnya tetap saja ada tantangan dan tuntutan untuk tumbuh dan kondisi itulah yang saya sebut lingkungan yang mendukung untuk berkembang. Pada saat saya memutuskan resign dari Gameloft, saya berada pada kondisi itu. Kondisi di mana saya bisa berkembang secara teknis tanpa harus khawatir dengan kebutuhan akan materi maupun non materi, karena saya punya teman yang saling mendukung, materi yang cukup, dan lingkungan hidup yang nyaman.
Lalu kenapa saya memutuskan untuk keluar Continue reading

Malam-malamku kini

Suatu malam (saat masih MI/SD) aku pernah bertanya pada Ayahku.
“Pa, Papa dulu kalau malam seperti ini ngapain? Maksudku saat tidak bermain atau belajar.”
Saat itu ayah menjawab dengan ringan.
“Ya, ngaji (membaca Al-Qur’an).”

Jawaban Ayah benar-benar menamparku, bukannya saat itu aku tidak pernah mengaji tetapi aku hanya mengaji saat mengikuti TPQ. Di sisi lain jawaban itu benar-benar di luar perkiraan, selama ini malam hari di keluarga kami hanya diisi dengan belajar, menonton tv atau terkadang jalan-jalan atau mengikuti yasinan rutin tiap Senin malam.
Bila aku menanyakan hal yang sama saat ini, mungkin jawaban Ayah bukan hanya menampar tetapi juga menohok ke ulu hati, malam-malamku kini tidak lagi diisi dengan belajar namun lebih banyak untuk jalan-jalan atau bermain computer games. Rasa haus akan kebahagiaan yang disebabkan oleh kelelahan bekerja diobati dengan hiburan-hiburan yang memberikan kesenangan dengan cepat namun tidak selalu membawa kebahagiaan dan ketenangan.
Sangat berat rasanya menggunakan waktu istirahat untuk membaca alquran, padahal kebutuhan akan kebahagiaan lebih mudah dipenuhi lewat ketenangan spiritual. Selain itu juga sebagai pemenuhan kewajiban sebagai umat beragama untuk mendekatkan diri pada tuhan.