Menunggu reda

Pernah tidak kamu memikirkan dari mana datangnya katak yang menyanyi bersahut-sahutan dikala hujan datang? Pasti tidak, begitu pula untuk berpikir tentang kemana perginya mereka saat diam terkesiap saat hujan telah reda.

Namun begitu itu yang agaknya membuat setidaknya seper lima bagian manusia di bumi ini masih waras, karena mereka tidak memikirkan hal-hal yang tidak terlalu penting seperti itu. Namun sayang empat per lima manusia yang lain tidak seberuntung itu, banyak dari mereka yang merengut saja kerjaannya. Tapi angka-angka itu jangan terlalu dipikirkan dapat dari mana, daripada nanti kamu malah ikutan tidak waras mengurus hal seperti itu.

Perkenalkan aku Pasir, biasa dipanggil Sir. Evolusi nama ini akan sangat menarik di sepanjang masa hidupku. Saat kecil dengan lidah belum terlalu lincah aku akan memanggil diri sendiri sebagai Acil, lalu diikuti Nenek yang akhirnya memanggil dengan nama Acil juga, diikuti paman, tante dan kakak-kakak sepupu yang lain. Namun Ibuk dan Bapak pasti tidak terima nama pilihan mereka dipermainkan, maka mereka akan memanggilku dengan (kejutan!) Pasir. Continue reading

Advertisements