Jendela

image from shutterstock

Ada sebuah jendela di mana saat orang memandang ke dalamnya maka akan terlihat sepasang kekasih yang saling memandang, tenggelam dalam lautan asmara. Dari jauh pun dapat terlihat temaram lampu kuning itu berbayang siluet sang mereka sedang menggenggam tangan satu sama lain. Mengisahi makna pertemuan dan mencumbui sisa-sisa malam, aura kehangatan itu membuar keluar lewat celah-celah jendela.

Malam-malamku kini

Suatu malam (saat masih MI/SD) aku pernah bertanya pada Ayahku.
“Pa, Papa dulu kalau malam seperti ini ngapain? Maksudku saat tidak bermain atau belajar.”
Saat itu ayah menjawab dengan ringan.
“Ya, ngaji (membaca Al-Qur’an).”

Jawaban Ayah benar-benar menamparku, bukannya saat itu aku tidak pernah mengaji tetapi aku hanya mengaji saat mengikuti TPQ. Di sisi lain jawaban itu benar-benar di luar perkiraan, selama ini malam hari di keluarga kami hanya diisi dengan belajar, menonton tv atau terkadang jalan-jalan atau mengikuti yasinan rutin tiap Senin malam.
Bila aku menanyakan hal yang sama saat ini, mungkin jawaban Ayah bukan hanya menampar tetapi juga menohok ke ulu hati, malam-malamku kini tidak lagi diisi dengan belajar namun lebih banyak untuk jalan-jalan atau bermain computer games. Rasa haus akan kebahagiaan yang disebabkan oleh kelelahan bekerja diobati dengan hiburan-hiburan yang memberikan kesenangan dengan cepat namun tidak selalu membawa kebahagiaan dan ketenangan.
Sangat berat rasanya menggunakan waktu istirahat untuk membaca alquran, padahal kebutuhan akan kebahagiaan lebih mudah dipenuhi lewat ketenangan spiritual. Selain itu juga sebagai pemenuhan kewajiban sebagai umat beragama untuk mendekatkan diri pada tuhan.

Surat Untuk Malam

Dear Malam,

Gerimis tiga hari yang lalu mengingatkanku pada 60 hari yang kita lalui, memoriku terpancing oleh wangi melati dari rumah yang sama yang kita lewati malam itu. Saat itu kamu menciumnya lebih dulu dan memaksaku untuk menghirup dalam-dalam udara dingin malam, “wangi kan!” Katamu ceria melihatku tersenyum saat menghirup nafas panjang-panjang. Tahukah kamu saat itu aku memang mencium wangi melati, namun aku tersenyum karena saat itu telah kau pasang penanda dalam perjalanan waktuku. Saat itu terjadilah asosiasi antara waktu dan aroma, asosiasi antara wangi melati dengan keceriaanmu. Seperti saat aku tiba-tiba merindukan kakekku bila mencium aroma manis rokok kretek, itulah yang akan terjadi dengan wangi melati.

Benarkan? Tentu kamu ingat waktu itu, kuharap kamu tersenyum saat ini.

Kalau dihitung-hitung dan diingat-ingat memang kamu yang paling berhasil menancapkan kesan paling mendalam pada rentang waktu yang singkat. Coba tebak apalagi yang membuatku tiba-tiba mengingatmu? (Tebak dulu, jangan lanjutkan membaca !)

Sebelum aku memutuskan datang ke kotamu, pernah kuceritakan padamu tentang kesibukanku yang benar-benar bikin gila. Memang hampir saja gila bila tidak mendengar suaramu tiap malam walaupun jauh dari seberang sana.

Aku bersamamu selalu di sampingmu
Untuk menjadi teman hidup dalam sempurna cinta kita
Kau getarkan hatiku saat bait itu kau nyanyikan, merdu, sendu dan syahdu. Pasti kamu ingat saat selesai kau nyanyikan lagu itu aku diam cukup lama dan kau mengulangnya lagi. Rasanya kamu seperti seorang putri yang sedang merapal mantra agar sang kekash yang ada di medan perang selalu kuat dan tabah. Benar-benar saat itu terasa belaianmu, usapan jari-jari lentikmu menghapus tetes air mata di pipiku. Aku melesap pada waktu, aku menyesap suaramu perlahan hingga kelopak mata tak mampu menahan titik air mata.

Kamu masih di situ kan, masih bersamaku lewat surat ini ? Masih separuh dari cerita genap yang ingin kusampaikan padamu kali ini.

Tentu kini kondisi kita sudah jauh berbeda, kamu semakin jauh dariku dan hidup tak lagi sesederhana dulu. Pernahkah kamu memikirkan hal yang cukup lucu kalau dipikir-pikir, jalan-jalan yang kulalui setiap hari adalah jalan-jalan yang dulu kau lalui. Namun tentu saja jalan yang kau lalui sekarang bukan jalan yang sama dengan jalanku, kamu sudah lebih jauh lagi.

Namun sama seperti aroma manis rokok kretek yang mengingatkan pada kakekku dan wangi melati yang menghadirkan senyummu, lantunan lagu itu (belakangan aku tahu judulnya Sempurnalah Cinta) berhasil menghadirkan dirimu pada pangkal imajiku.

Tidur nyenyak malam, semoga kita dapat bertemu lagi dan merajut 60 hari indah yang lain

Kasihmu,
Hujan

Semburat Merah Jambu

Semu merah jambu
Semburat di wajahmu
Tak Kulupa barang sejengkal guratan

Pastilah malam-malam di sana
Lebih terang, gemerlap dan pengap
O malam-malamku, sayang

Liriklah ke mari
O malam-malamku
Sendu, layu namun juga sama pengap

Hei, tapi semu semburat
Merah jambu di wajahmu
Tiap jengkal gurat adalah bekal rindu
O malam-malamku