Sore Padi

“Senyum dong,” Padi disapa oleh seseorang yang tiba-tiba berada di sampingnya. Dia tersenyum, Padi bingung tapi ikut tersenyum.

“I iya hai, siapa ya?” Kata padi sambil sedikit tergagap.

“Halo kenalin namaku Nadya. Udah tiga hari ini aku keliling Jogja nyari kamu.”

“Aku Padi, salam kenal. Kenapa nyari-nyari?”

“Santailah pad, aku cuma pengen ketemu aja kok.”

Sampai di situ Padi mulai berusaha mengingat-ingat apakah dia pernah bertemu perempuan di depannya ini. Tidak mungkin pikirnya, Nadya ini cantik gak mungkin dia melupakannya walau bertemu hanya sekali. Atau mungkin tiga atau empat hari yang lalu dia melakukan sesuatu yang istimewa, semingguan ini dia cuma ngendon di kedai kopi Bismillah.

“Gini, kemarin Pak Bisri ngasih saran untuk nemuin kamu. Tahu Pak Bisri kan? Yang rambutnya putih, orang yang jaga villa di Batu.” Nadya sepertinya tahu Padi sedang mempertanyakan kehadirannya.

“Jadi ceritanya aku pengen kamu nikahin aku. Bulan depan.”

“Ha?” Cuma sebatas ini kualitas seorang Padi dalam menghadapi kondisi seperti ini. Continue reading

Advertisements

Namanya Rani (sepertinya)

againts wll

Ada seorang cewek yang ke mana-mana pakai topi warna orange aneh, dia selalu terlihat ceria. Perkenalkan namanya Rani (jelas bukan nama sebenarnya), dia kerjaannya nyengir. Beberapa waktu lalu dia ngobrol sama teman-temannya dan ngomongin hal yang nggak jelas dan ketawa-ketiwi bersama.

Malam itu Rani sendirian pulang dari tempat kerjanya, berdiri di depan gedung besar, diam bersender di tembok sambil memegang tas laptop. Dia tidak nyengir waktu itu, pikirannya juga tidak melayang menuju imajinasi yang bermacam-macam. Saat itu Rani sedang menunggu.

Kalau ingin cepat berlarilah, kalau ingin tenang diamlah dan kalau ingin sendiri menjauhlah. Dia menunggu gerombolan manusia yang pulang dari kantor untuk pergi, Rani hanya ingin sendiri tapi tak ingin menjauh. Bila tak mampu menjauh maka tunggulah dunia untuk menjauh darimu, begitu kira-kira yang ada dalam kepalanya.

Jangan dikira nyengir, berhaha-hihi dan terlihat bahagia itu enteng. Pernah suatu saat Rani capek sekali, wajahnya pucat, matanya lemas dan rambutnya lepek. Pas itu ada teman-teman ngumpul ngajakin canda, dia tentu saja ikutan. Semenit berasa sejam, sejam berasa semenit kali enam puluh. Setelah itu dia menjauh, duduk di pojok dan berusaha terlihat sibuk dengan laptopnya.

Sering dia diberi semangat oleh temannya, diberi dukungan untuk terus berusaha untuk berbagai macam hal yang dia hadapi. Tapi sebenarnya yang seringkali yang dia tunggu adalah seseorang yang bilang, kamu sudah berusaha cukup keras, kali ini menyerah pun bukan hal yang salah.