Apa enaknya sate kalau seperti ini

Beberapa hari ini cuaca benar-benar tidak menentu, banyak orang yang pada sakit. Papa minggu lalu flu, sampai sekarang pileknya pun belum sembuh. Mama, Kakak sampai mbak Jum pun bergantian sakitnya. Tentunya aku juga gak terkecuali.
Ceritanya kemarin malam aku nonton tivi bareng Mama, Papa, kakak sampai jam 10 malam, karena besoknya hari minggu. Malam itu tivi nya seru, kita bareng-bareng nonton acara komedi yang lucu sekali. Kami sekeluarga paling suka acara itu dan kadang-kadang sampai lupa waktu. Kayak kemarin tidurnya sampai jam sepuluh malam, padahal biasanya jam 8 saja sudah disuruh tidur sama mama.
Paginya pas bangun tidur tiba-tiba kepalaku pusing, jalan dari tempat tidur rasanya kayak jalan di kapal laut. Kayak nggak imbang gitu, juga kepala rasanya kayak digoyang-goyang. Aku langsung nyari Mama sambil nangis, waktu itu mama sedang memasak di dapur.
“Kamu kenapa Dek?”

Continue reading

Sore Padi

“Senyum dong,” Padi disapa oleh seseorang yang tiba-tiba berada di sampingnya. Dia tersenyum, Padi bingung tapi ikut tersenyum.

“I iya hai, siapa ya?” Kata padi sambil sedikit tergagap.

“Halo kenalin namaku Nadya. Udah tiga hari ini aku keliling Jogja nyari kamu.”

“Aku Padi, salam kenal. Kenapa nyari-nyari?”

“Santailah pad, aku cuma pengen ketemu aja kok.”

Sampai di situ Padi mulai berusaha mengingat-ingat apakah dia pernah bertemu perempuan di depannya ini. Tidak mungkin pikirnya, Nadya ini cantik gak mungkin dia melupakannya walau bertemu hanya sekali. Atau mungkin tiga atau empat hari yang lalu dia melakukan sesuatu yang istimewa, semingguan ini dia cuma ngendon di kedai kopi Bismillah.

“Gini, kemarin Pak Bisri ngasih saran untuk nemuin kamu. Tahu Pak Bisri kan? Yang rambutnya putih, orang yang jaga villa di Batu.” Nadya sepertinya tahu Padi sedang mempertanyakan kehadirannya.

“Jadi ceritanya aku pengen kamu nikahin aku. Bulan depan.”

“Ha?” Cuma sebatas ini kualitas seorang Padi dalam menghadapi kondisi seperti ini. Continue reading

Namanya Rani (sepertinya)

againts wll

Ada seorang cewek yang ke mana-mana pakai topi warna orange aneh, dia selalu terlihat ceria. Perkenalkan namanya Rani (jelas bukan nama sebenarnya), dia kerjaannya nyengir. Beberapa waktu lalu dia ngobrol sama teman-temannya dan ngomongin hal yang nggak jelas dan ketawa-ketiwi bersama.

Malam itu Rani sendirian pulang dari tempat kerjanya, berdiri di depan gedung besar, diam bersender di tembok sambil memegang tas laptop. Dia tidak nyengir waktu itu, pikirannya juga tidak melayang menuju imajinasi yang bermacam-macam. Saat itu Rani sedang menunggu.

Kalau ingin cepat berlarilah, kalau ingin tenang diamlah dan kalau ingin sendiri menjauhlah. Dia menunggu gerombolan manusia yang pulang dari kantor untuk pergi, Rani hanya ingin sendiri tapi tak ingin menjauh. Bila tak mampu menjauh maka tunggulah dunia untuk menjauh darimu, begitu kira-kira yang ada dalam kepalanya.

Jangan dikira nyengir, berhaha-hihi dan terlihat bahagia itu enteng. Pernah suatu saat Rani capek sekali, wajahnya pucat, matanya lemas dan rambutnya lepek. Pas itu ada teman-teman ngumpul ngajakin canda, dia tentu saja ikutan. Semenit berasa sejam, sejam berasa semenit kali enam puluh. Setelah itu dia menjauh, duduk di pojok dan berusaha terlihat sibuk dengan laptopnya.

Sering dia diberi semangat oleh temannya, diberi dukungan untuk terus berusaha untuk berbagai macam hal yang dia hadapi. Tapi sebenarnya yang seringkali yang dia tunggu adalah seseorang yang bilang, kamu sudah berusaha cukup keras, kali ini menyerah pun bukan hal yang salah.

Tujuh hari yang lalu

bumping

Tujuh hari yang lalu tepat di hari pertama kami bertemu, aku tidak memiliki firasat apapun. Saat itu seperti hari-hari biasa, seperti hari-hari yang lain di mana mentari pagi bersinar cerah serta diiringi terik matahari jam 12 siang. Aku berjalan pelan menuju ATM untuk mengambil uang sambil menghitung-hitung sisa tabungan dalam rekening. Ternyata menerima kenyataan tabunganku tidak cukup aman sampai akhir bulan membuat pikiran kalut dan hingga “Bruk!” Kami bertabrakan.

Aku ingin tanya pada kalian, apakah yang mungkin terjadi setelah kamu menabrak seorang lawan jenis, yang dalam pandangan pertama kamu tahu bahwa dia adalah tipe mu?

Sayangnya yang terjadi padaku sangat receh, perlu beberapa detik untuk keluar dari lamunan dan menyadari bahwa aku telah menabrak seseorang. Tidak sampai di situ saja, perlu beberapa detik yang lain untuk menyesapi kehadirannya dari kaki hingga ujung rambutnya. Barulah aku dapat melanjutkan jalan kembali.

Pasti sekarang kamu bertanya, apa yang terjadi dengannya, kenapa aku tidak meminta maaf, kenapa aku langsung saja melanjutkan jalan menuju ATM.

Sudah kubilang sebelumnya bahwa ini hanyalah kisah receh, di mana aku adalah recehannya. Beberapa detik yang kulewatkan untuk menyadari kejadian itu dan beberapa detik kemudian untuk mencerna kehadirannya adalah waktu yang cukup untuknya untuk melihatku sebagai orang aneh dan sesegera mungkin berjalan menjauh dariku.

Aku lupa apakah sempat kita saling memandang, bila iya mungkin pada saat itu mulutku terbuka dengan penuh kekaguman, yang dimatanya pasti terlihat bodoh sekali.

Hari ini, tujuh hari setelah kami bertabrakan, aku masih sulit melupakannya.

Sebatang ara

Aku adalah daun yang menggelayut manja di sebatang pohon Ara satu-satunya di kampung ini. Tiap pagi kulihat ilalang dikebas oleh angin sepoi lembut sebelum ditikam terang panas matahari. Demi melihat hal itu terjadi, tentu aku juga merasakan hal yang sama.
Aku kenal Ara sejak lama, orang-orang memanggilnya sebagai pohon saja. Berdiri tegak sepanjang waktu, diterpa angin saat musim badai hingga bergugur daun saat musim kemarau. Tapi sebagai Ara satu-satunya di kampung ini, dia tidak seperti pohon lain yang suka menyanyi saat hujan datang atau bersiul saat musim layangan.

“Aku hampir tak yakin bahasa yang kugunakan adalah bahasa kaum Ara, se-tak yakinnya diriku akan jadi diriku sebagai sebatang Ara.” Dia bergumam seperti itu suatu saat.
Continue reading