Waktu, beri kami waktu

Bagi sebagian orang rintik hujan terus saja turun membasahi jalan-jalan sepi Jakarta pukul 12 malam, turun beradu dengan aspal hangat, menguap mengaromai udara. Menebar melankoli bagi jiwa-jiwa sepi perantau yang berduyun-duyun berusaha memasuki alam mimpi.

Nuansa ibu kota yang lembab tak terasa sampai di sini, hanya terlihat dari jauh rintik hujan menjadikan jalan-jalan semakin memesona. Refleksi lampu-lampu jalan yang menguning sendu, ditemani guratan merah dari lampu belakang mobil yang terkadang masih saja lewat. Dari balik balkon kamar kami memandangi jalan-jalan mulai melengang, melupakan segala kesibukan yang besok akan terulang kembali.

“Kamu lihat di bawah lampu jalan itu? Lihat itu.”
“Yang mana?” Continue reading

Menjaga apa yang terucap

Pernah menyampaikan suatu hal yang anda kira sesuatu yang remeh temeh, tetapi ternyata mungkin saja menyakiti orang lain? Kejadian ini seringkali menimpa diri saya dan tentu hal itu memberikan penyesalan yang amat dalam.

Saya membangun kehati-hatian dalam berkata melalui informasi yang terkumpul dan asumsi, namun ternyata asumsi-asumsi yang saya bangun seringlah jauh dari kenyataan. Kesalahan asumsi itulah yang seringkali membuat suatu pernyataan menjadi menyakitkan bagi orang lain walaupun tidak diniatkan untuk seperti itu.

Berbagai asumsi yang mudah dibuat seperti kondisi keuangan, kondisi keluarga ataupun pengalaman pribadi dari seseorang. Contohnya seseorang yang terlihat ceria belum tentu memiliki kebahagiaan yang bisa kita asumsikan entah dari sisi keluarga, keuangan ataupun hal lainnya.

Saya pernah bercerita tentang seorang anak yang selama ini mendapat kehidupan yang kurang baik karena kondisi keluarganya tidak memungkinkan. Cerita itu kusampaikan kepada seseorang yang saya asumsikan memiliki kondisi yang Continue reading

Pesan pesan yang tak berbalas

Pernah beberapa dari kami pergi ke tanah seberang

Beribu-ribu mil kami tempuh

Pernah pula diriku dalam rombongan itu

Namun hanya sekian puluh kilometer saja

Namun kehadiran kami di sana tak berarti jua, sepertinya

 

Biasanya dalam sebuah perjalanan, sebagian dari kami akan kembali

Dengan membawa makna baru

Biasa kami sebut jawaban

Namun beberapa kali kami akan lenyap dalam sebuah perjalanan tanpa jawaban

Senyum

Masih ingat gadis yang kuceritakan beberapa waktu lalu? Iya dia yang menghabiskan waktu untuk tersenyum lebar.

Malam ini akan kusisihkan waktu untuk mengingat-ingat siapakah namanya dan mendalami tentang senyumnya.

Kalau tak salah kusebut dia rani, nama itu sederhana sekali. Singkat, terasa lokal dan cukup manis tidak berlebihan. Tepat seperti senyumnya yang biasa aku perhatikan, lebar, tanpa ragu dan jujur.

Iya, ada kejujuran saat senyum itu mengembang. Membawa kebahagiaan yang memancar sejauh radius senyum itu dapat terlihat.

Tapi aku ingin mendalami senyumnya malam ini, bukan cuma mengingat dan mabuk akan memori potongan-potongan senyuman itu.

Apa alasan dia tersenyum, apakah ada yang lucu? Hmm tidak juga rasanya. Apa harinya bahagia? Mana mungkin dia berbahagia setiap hari, manusia tetaplah manusia.

Jangan-jangan dia hanya bersandiwara dengan senyumnya! Ah rasanya terlalu jujur dan hangat senyuman itu.

Atau akan kutanya saja lain kali, mungkin besok, lusa, atau suata saat kami bisa bertemu, berbincang dan berbagi dunia.

Baiklah malam ini aku akan menyerah, memabukan diri dengan potongan memori senyumannya.  Masih teringat wangi rambutnya ketika kami berjalan berdampingan,  juga senyuman lebar yang terbit tanpa perlu alasan

 

Apa rindu aku?

Bila iya, jangan lanjutkan

Aku tahu beratnya merindu

Biarkan aku saja

Kalau tak mampu untuk berhenti

Tak apa lanjutkan

Tapi nanti ceritakan padaku

Biar bisa ku obati dengan tetesan cinta yang kusuling dari kerinduanku musim lalu