Menunggu reda

Pernah tidak kamu memikirkan dari mana datangnya katak yang menyanyi bersahut-sahutan dikala hujan datang? Pasti tidak, begitu pula untuk berpikir tentang kemana perginya mereka saat diam terkesiap saat hujan telah reda.

Namun begitu itu yang agaknya membuat setidaknya seper lima bagian manusia di bumi ini masih waras, karena mereka tidak memikirkan hal-hal yang tidak terlalu penting seperti itu. Namun sayang empat per lima manusia yang lain tidak seberuntung itu, banyak dari mereka yang merengut saja kerjaannya. Tapi angka-angka itu jangan terlalu dipikirkan dapat dari mana, daripada nanti kamu malah ikutan tidak waras mengurus hal seperti itu.

Perkenalkan aku Pasir, biasa dipanggil Sir. Evolusi nama ini akan sangat menarik di sepanjang masa hidupku. Saat kecil dengan lidah belum terlalu lincah aku akan memanggil diri sendiri sebagai Acil, lalu diikuti Nenek yang akhirnya memanggil dengan nama Acil juga, diikuti paman, tante dan kakak-kakak sepupu yang lain. Namun Ibuk dan Bapak pasti tidak terima nama pilihan mereka dipermainkan, maka mereka akan memanggilku dengan (kejutan!) Pasir.

Jangan salah sangka lagi, cerita soal nama ini tidak akan selesai di orang tuaku saja. Karena walaupun mereka ngotot memanggilku pasir, tapi mereka tidak punya kekuatan mencegah kawan-kawan SMP memanggilku seenak jidat mereka. Hari pertama SMP mereka tertawa saat aku memperkenalkan diri. Masih teringat betapa herannya aku dengan reaksi mereka, kenapa tertawa? Namaku cukup bagus atau setidaknya normal-normal saja, ada banyak pasir di bumi ini, digunakan sebagai pondasi pembangunan negeri bahkan dunia. Kenapa tidak mentertawakan nama si Paijo yang jelas-jelas ndeso?

Ok, singkat saja di SMP aku dipanggil Cangkul! Jangan tanya kenapa, tak akan ada artinya buat kamu. Tapi daripada penasaran aku kasih tahu saja, karena saat itu siang hari kala istirahat jam 10 pagi ada kuli bangunan yang sedang mencangkul pasir untuk perbaikan tugu sekolah kami. Sejak saat itu, Pasir adalah Cangkul.

Mari kita lewati masa SMA karena saat itu terlalu banyak panggilanku, dan jelas kepopuleranku mengalahkan populeritas ketua OSIS 3 jaman. Namun rahasia saja, lagian kamu tak akan tertarik dengan kisah-kisah membosankan yang tiap-tiapnya menghasilkan panggilan baru untukku yang cukup menggelikan dan tidak masuk akal.

Coba bayangkan saat aku tua nanti, aku akan di panggil Pak Sir. Tak ada julukan-julukan aneh karena orang dewasa akan makin membosankan dan memang yang seperti itu tak lucu lagi. Namun sayang Ibuk Bapak kurang jeli saat memilih nama, karena panggilanku saat dewasa sangatlah redundan. Pak Sir itu pada intinya adalah Pak Bapak, iya kan? Sudahlah aku cuma berusaha melucu.

Sampai di sini, agaknya aku memaksa kamu menjadi empat per lima bagian manusia yang kurang waras. Mengajak-ngajak untuk mengikuti cerita yang tidak terlalu penting. Tentang kenapa manusia lain akan memanggilku Pak Sir dan bagaimana kisah yang mendahului panggilan itu. Jangan menolak, tetap saja kita sekarang sama-sama tidak waras.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s