Waktu, beri kami waktu

Bagi sebagian orang rintik hujan terus saja turun membasahi jalan-jalan sepi Jakarta pukul 12 malam, turun beradu dengan aspal hangat, menguap mengaromai udara. Menebar melankoli bagi jiwa-jiwa sepi perantau yang berduyun-duyun berusaha memasuki alam mimpi.

Nuansa ibu kota yang lembab tak terasa sampai di sini, hanya terlihat dari jauh rintik hujan menjadikan jalan-jalan semakin memesona. Refleksi lampu-lampu jalan yang menguning sendu, ditemani guratan merah dari lampu belakang mobil yang terkadang masih saja lewat. Dari balik balkon kamar kami memandangi jalan-jalan mulai melengang, melupakan segala kesibukan yang besok akan terulang kembali.

“Kamu lihat di bawah lampu jalan itu? Lihat itu.”
“Yang mana?”
“Itu lihat ada kodok mau menyeberang jalan.” Katanya sambil menujuk-nunjuk jalan dengan jari yang lentik.
“Oh itu, kamu yakin dia akan menyeberang jalan? Sepertinya dia hanya melamun.”
“Mungkin.”

Dia diam termenung memandangi jalan kembali, menikmati bias-bias cahaya jalanan, memandang wajahku sebentar dan kembali mengeratkan tubuhnya di dekapanku.

“Aku tak tahu darimana datangnya perasaan ini, yang jelas aku sangat menyayangimu”
“Aku juga.” Jawabnya singkat sambil tersenyum dan membenamkan wajahnya di dekapanku.
“Kamu suka seperti ini?”
“Iya, aku bisa mendengar detak jantungmu, merasakan hangat tubuhmu di kulitku.”

Beberapa hal yang selalu menarik bagiku adalah bagaimana waktu memaksakan sebuah kesimpulan. Sebuah momen akan menemui akhirnya, entah karena apapun tapi akhirnya kita harus membuat sebuah kesimpulan.

Aku dan dia ingin momen-momen seperti ini untuk tetap begini saja, tak berubah, tidak perlu semakin baik atau semakin buruk. Namun tetap saja waktu memaksakan sebuah kesimpulan untuk diambil. Mungkin 15 menit lagi aku akan lelah memeluknya, atau dia bosan dengan dekapanku dalam hitungan hari, bulan atau mungkin beberapa tahun lagi. Bisa pula karena matahari yang akan terbit beberapa jam lagi, memaksa kami berpindah tempat karena tak mampu menahan teriknya.

Waktu yang seakan hanyalah sebuah ironi kehidupan terus saja mengejar, mendorong namun kadang menimang dan memabukan. Kami sedang dimabukan oleh waktu, tapi kami juga sadar suatu saat ia akan mendorong pada sebuah kesimpulan.

Advertisements

3 thoughts on “Waktu, beri kami waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s