Menjaga apa yang terucap

Pernah menyampaikan suatu hal yang anda kira sesuatu yang remeh temeh, tetapi ternyata mungkin saja menyakiti orang lain? Kejadian ini seringkali menimpa diri saya dan tentu hal itu memberikan penyesalan yang amat dalam.

Saya membangun kehati-hatian dalam berkata melalui informasi yang terkumpul dan asumsi, namun ternyata asumsi-asumsi yang saya bangun seringlah jauh dari kenyataan. Kesalahan asumsi itulah yang seringkali membuat suatu pernyataan menjadi menyakitkan bagi orang lain walaupun tidak diniatkan untuk seperti itu.

Berbagai asumsi yang mudah dibuat seperti kondisi keuangan, kondisi keluarga ataupun pengalaman pribadi dari seseorang. Contohnya seseorang yang terlihat ceria belum tentu memiliki kebahagiaan yang bisa kita asumsikan entah dari sisi keluarga, keuangan ataupun hal lainnya.

Saya pernah bercerita tentang seorang anak yang selama ini mendapat kehidupan yang kurang baik karena kondisi keluarganya tidak memungkinkan. Cerita itu kusampaikan kepada seseorang yang saya asumsikan memiliki kondisi yang tak jauh beda dengan diri saya. Kisah itu sempat kuulang beberapa kali dengan sudut pandang yang berbeda di kesempatan yang berbeda pula.

Lalu suatu saat saya menyadari apa yang saya lakukan kurang baik, bagaimana bila ada orang yang mendengarkannya dan merasa tidak enak hati. Apakah teman saya sesuai dengan asumsi yang saya bangun secara egois?

Mungkin tidak,

Saya minta maaf untuk kawan-kawan yang pernah merasa tidak nyaman dengan apa yang saya ucapkan.

Advertisements

2 thoughts on “Menjaga apa yang terucap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s