Berlalu

wetmirror

Pas kemarin Rin jalan ke kamar mandi, dia menemukan rasa bersalah berkumpul di batok kepalanya. Sudah dicoba dibasuh dengan air, tapi tetap belum hilang juga. Sekali dicoba, dua kali, tiga kali sampai ke empat kali masih belum juga hilang.

Ok harus tenang, harus dengan kepala dingin. Rin mencoba menenangkan diri, ditatap tajam cermin lebar di depannya. Berusaha mengenali refleksi tubuhnya, ditelusuri mulai dari ujung rambut, turun ke dahi di mana semua rasa bersalah itu berkumpul, berlanjut ke mata di mana ada suatu kekosongan terlihat di sana. Kini pandangan Rin berhenti di ujung hidung runcingnya, berusaha menemukan sedikit petunjuk tetapi tak ada apa-apa di sana.

Mungkin harus dialihkan, jangan dihiraukan. Setelah berpikir sejenak dia mulai menyikat gigi, digosokan sikat gigi itu ke permukaan giginya. Busa mulai berkumpul dan menetes dari mulut, bersamaan dengan makin kencangnya dia menggosok. Rin berharap semua rasa bersalah itu tertutupi oleh suara sikat gigi dan busa di mulutnya. Makin kencang dia menggosok, makin kencang pula tangisannya. Tidak ini tidak bekerja, Rin sesengukan.

Lalu apa yang harus dilakukan, Rin putus asa. Ditinju cermin lebar itu hingga pecah, darah segar mengalir deras dari tangannya. Air mata pun masih terus mengalir dari pelupuk mata.

Rin berjalan keluar kamar mandi, memutar gagang pintu dengan tangan penuh darah. Berjalan gontai dan ambruk di atas pembaringan, sprei putih itu mulai memerah. Dia sesengukan, membentur-benturkan kepalanya pada bantal, sambil menahan gemeretak gigi penuh emosi.

Seberkas cahaya yang menyelinap dari lipatan tak rapat jendela kamar membangunkan Rin. Perlahan bangun, memandang sprei putih yang penuh bercak darah, merabai bibirnya yang kasar terkelupas dan mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya yang terasa kering.

Dia buka perlahan jendela kamar dengan tangannya yang penuh luka. Sekarang jam 6 pagi, angin pagi menghambur sejuk menepuki wajahnya, menerbangkan ujung-ujung rambut yang bercabang dan memerah. Kicau burung gereja nakal menabuhi lantunan lagu pagi dari balik rimbunan padi di sawah depan sana.

Rin tersenyum, rasa sesal dikepalanya telah hilang. Dia mengingat-ingat apa yang dilakukannya selain membiarkan tubuhnya kelelahan dan tidur terlelap. Apakah sikat gigi? Apakah karena menangis? Atau mungkin karena membiarkan putus asa memakannya?

Rasanya dia tahu sebabnya. Makin dirinya terkungkung oleh rasa bersalah, makin tenggelam dia dalam ketidakberdayaan, makin tak kuasa dia menghilangkan rasa itu. Yang dia lakukan hanya diam, menyerah dan berusaha tak lagi tenggelam dalam keputus asaan. Yang membuatnya pupus bukanlah karena rasa bersalah itu, tetapi bagaimana dia membiarkan rasa itu menyelimuti pikirannya.

You drown not by falling into a river, but by staying submerged in it.
Paulo Coelho

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s