Pindahan kerja

Resign dari sebuah pekerjaan bukanlah suatu hal yang mudah, paling tidak begitu menurut saya. Berkut adalah beberapa hal yang saya dapat dalam masa-masa tersebut :

1. Memutuskan untuk keluar dari zona nyaman

Hal berat pertama yang harus diputuskan adalah mengenai kesiapan untuk keluar dari zona nyaman dan berbagai implikasinya. Banyak yang mengatakan zona nyaman adalah salah satu pembunuh paling mengerikan, namun tak banyak yang mengatakan bahwa bukan berarti kita tidak dapat tumbuh dan berkembang di dalam zona nyaman. Di dalam zona nyaman pun sebenarnya tetap saja ada tantangan dan tuntutan untuk tumbuh dan kondisi itulah yang saya sebut lingkungan yang mendukung untuk berkembang. Pada saat saya memutuskan resign dari Gameloft, saya berada pada kondisi itu. Kondisi di mana saya bisa berkembang secara teknis tanpa harus khawatir dengan kebutuhan akan materi maupun non materi, karena saya punya teman yang saling mendukung, materi yang cukup, dan lingkungan hidup yang nyaman.
Lalu kenapa saya memutuskan untuk keluar dari lingkungan yang secara teknis mendukung saya untuk berkembang, karena pada saat itu saya memperkirakan trend tantangan yang akan datang tidak akan lagi meningkat dengan grafik tajam ke atas. Intinya saya takut mengalami stagnasi di kemudian hari tanpa saya sadari, karena terlena dan terlambat untuk menyadari. Dari situlah suatu lompatan kuantum diperlukan, lompatan yang sangat drastis dan mengguncang.

2. Memutuskan tujuan baru

Setelah proses mencari yang cukup panjang akhirnya saya menemukan dua tempat ideal untuk tujuan selanjutnya, namun tentu hanya ada satu yang boleh dipilih. Memiliki pilihan memang suatu priviledge yang harus saya syukuri, namun bukan berarti memilih itu suatu hal yang mudah dan menyenangkan. Hingga saya menerima tawaran dari salah satu startup yang naik daun ini, saya harus berkonsultasi dengan banyak orang mulai dari Orang Tua, kekasih, teman sebagai mentor profesional ataupun sebagai karib. Bukan hanya soal lokasi dan gaji dari pekerjaan tersebut, tetapi juga tentang bagaimana pekerjaan baru itu memberikan tantangan dan modal teknis untuk menghadapi rentang panjang masa aktif produktif saya.

3. Pamitan

Perpisahan bukanlah hal yang mudah, itulah yang juga saya alami. Saya dikelilingi orang-orang yang menemani selama ini, baik teman saat kuliah dulu, teman satu kos, teman kerja hingga pemilik warung makan langganan. Sayangnya tidak semua orang sempat saya pamiti untuk minimal minta maaf bila pernah ada salah.
Yang cukup berkesan dari pamitan ini justru saat mengajukan surat resign dan pamitan ke atasan. Pertama karena saya sangat menghargai mereka dan menyadari peran mereka terhadap perkembangan saya selama ini, kedua adanya proses ‘memberikan tawaran yang lebih baik’. Namun sayangnya dalam proyeksi jangka panjang saya, posisi saat itu tidak dapat memenuhi hal yang saya inginkan apapun adjustment yang dilakukan.
Ada satu tradisi yang mungkin tidak unik di Gameloft atau jogja saja, yaitu mentraktir teman-teman dekat. Pada akhirnya mentraktir ini bukan menjadi beban tapi dari ‘the bottom of my heart’ saya benar-benar mau melakukannya sebagai wujud terima kasih atas keberadaan mereka di sekeliling saya selama ini.
Saya akan menyertakan anggaran yang keluar dalam posting ini, bukan untuk pamer tetapi agar berguna bagi orang yang membutuhkan. Total ada 3 wave traktiran plus 1 wave martabak untuk yang tidak ikut di traktir, berikut rincian pengeluarannya.

Wave 1 :
Spesial sambal 5 Orang : 116.000
Wave 2 :
Spesial sambal 9 Orang : 198.600
Wave 3 :
Lombok ijo 11 orang (kalau gak salah) : 350.000 an (kalau gak salah) – nota ilang
Wave Martabak :
Martabak 5 : 150.000

Jadi total : 814.600

Pengeluaran untuk pos ini cukup besar karena saya memutuskan untuk mengajak cukup banyak orang, total sekitar 20an orang. Tentu pos pengeluaran ini bisa dirubah-rubah dari jumlah yang ditraktir hingga tempat mentraktirnya. Namun secara pribadi semua itu murah banget, dan tidak seberapa dengan apa yang telah kawan-kawan saya berikan selama ini.

4. Kirim-kirim barang

Selama berpamitan saya juga mulai mengemasi barang-barang untuk dikirim ke tempat baru maupun ke rumah di Kediri. Beberapa barang saya putuskan untuk dijual di Jogjakarta saja, seperti sepeda, lemari, meja, hingga helm dan kipas angin, teman-teman kos lah yang membantu untuk menjualnya. Setelah itu tinggal mengirim barang ke Jakarta dan Kediri.

Wave 1 ke Jakarta
Saya mengirim beberapa potong baju dan sepatu ke Jakarta, sehingga saat saya ke sana cukup membawa satu tas ransel saja. Ada sedikit penyesalan saat mengirim lewat pos, kiriman seberat 2080 Gram dibulatkan menjadi 3000 gram (deeeeeimn!!!).
Biaya : 58.000

Wave 2 Mengirim 1 kardus ke Kediri
Saya mengepak barang ke dalam kardus kertas A4, dan meminta tolong Mas Sony untuk menunjukan tempat pengiriman barang yang murah lewat kereta. Akhirnya barang itu di kirim lewat KALOG yang memiliki kantor di Jalan Pasar Kembang samping stasiun tugu. 0-50 kg dihargai 50.000, di ambil besoknya di KALOG Stasiun Kediri oleh adik saya.
Biaya : 50.000

Wave 3 Mengirim 1 kardus ke Kediri
Selanjutnya saya mengirim satu kardus lagi dengan ukuran 4 kali lebih besar ke Kediri, lewat LPM. Tempatnya ada di sebelah pintu keluar Stasiun Tugu. Harga nya sama yaitu <50 KG 50.000, namun di sini dikenakan pajak 10 %.
Biaya : 55.000

Wave 4 Mengirim 1 kardus dan 1 motor ke Kediri
Sebenarnya saya kira sudah semua barang yang diperlukan telah terkirim ke kediri, tetapi di akhir-akhir saya ternyata terkumpul cukup banyak barang lain yang belum terangkut. Hingga terkumpulah satu kardus sebesar kardus di Wave 3. Sehingga saya jadikan satu dengan mengirim motor. Yang menarik dari wave ini adalah pengiriman dilakukan H-1 sebelum saya pulang ke Kediri sehingga pada saat saya bisa mengendarai dan membawa kardus itu pulang sesampainya di Kediri.
Barang di kirim lewat LPM karena tarif kirim motor paling murah, KALOG 400.000 sudah dengan biaya packing.
Biaya :
– Kardus : 50.000
– Motor : 275.000
– Packing motor : 75.000

Total : 563.000

5. Menikmati Jogja As A Tourist

Minggu sore terakhir saya putuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi jogja sebagai turis, menikmati jogja sore yang lengang dan mendamaikan. Tidak dapat saya pungkiri jogja telah mengukir beberapa kenangan indah, mulai dari kisah asmara, perjuangan dan kebahagiaan. Karena itulah sore itu saya berjalan-jalan santai di Malioboro, membeli Es Krim Super Dark Chocolate di Artemy, Membeli Kue Putu dan Telo Godog di Pasar Beringharjo, hingga jalan jalan di Mirota Batik untuk membeli oleh oleh. It’s a pleasure to have chance to live in that beautiful place full of nice people.

Demikian kisah panjang perjalanan pindahan saya, semoga bermanfaat bagi yang akan pindahan.

3 thoughts on “Pindahan kerja

  1. Kadang kita juga perlu ‘muhasabah’ lagi: apakah karir yang terus berkembang tajam dan cepat dengan berbagai ketidaksempatannya; atau hidup sederhana ‘asal berguna’ yang benar-benar kita inginkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s