Malam-malamku kini

Suatu malam (saat masih MI/SD) aku pernah bertanya pada Ayahku.
“Pa, Papa dulu kalau malam seperti ini ngapain? Maksudku saat tidak bermain atau belajar.”
Saat itu ayah menjawab dengan ringan.
“Ya, ngaji (membaca Al-Qur’an).”

Jawaban Ayah benar-benar menamparku, bukannya saat itu aku tidak pernah mengaji tetapi aku hanya mengaji saat mengikuti TPQ. Di sisi lain jawaban itu benar-benar di luar perkiraan, selama ini malam hari di keluarga kami hanya diisi dengan belajar, menonton tv atau terkadang jalan-jalan atau mengikuti yasinan rutin tiap Senin malam.
Bila aku menanyakan hal yang sama saat ini, mungkin jawaban Ayah bukan hanya menampar tetapi juga menohok ke ulu hati, malam-malamku kini tidak lagi diisi dengan belajar namun lebih banyak untuk jalan-jalan atau bermain computer games. Rasa haus akan kebahagiaan yang disebabkan oleh kelelahan bekerja diobati dengan hiburan-hiburan yang memberikan kesenangan dengan cepat namun tidak selalu membawa kebahagiaan dan ketenangan.
Sangat berat rasanya menggunakan waktu istirahat untuk membaca alquran, padahal kebutuhan akan kebahagiaan lebih mudah dipenuhi lewat ketenangan spiritual. Selain itu juga sebagai pemenuhan kewajiban sebagai umat beragama untuk mendekatkan diri pada tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s