Temanku yang jelita dan batu bata jelek

Malu Seorang temanku memiliki wajah yang indah, rambutnya hitam lurus dan panjang. Badannya cukup tinggi untuk ukuran wanita Indonesia, dengan kenyataan seperti itu tentu pula dia sadar dirinya cantik. Namun dia tetaplah seperti manusia lainnya, ada satu hal yang membuatnya tidak percaya diri.

Sebelum kulanjutkan akan kukisahkan tentang seorang biksu dan batu bata. Suatu ketika ada seorang biksu yang menjadi tukang batu untuk membangun vihara, dia tidak memiliki keahlian sebagai tukang batu. Karena itulah dia melakukan pekerjaan dengan penuh kehati-hatian dan sungguh-sungguh. Walaupun begitu pada satu sisi dinding dia melakukan kesalahan kecil yang baru dia ketahui saat dindingnya telah selesai, tentu tidak mungkin dia membongkar hasil pekerjaannya lalu memperbaiki kesalahan itu.

Setiap saat melewati sisi dinding itu, matanya tidak pernah lepas pada satu bata jelek yang telah terpasang walaupun itu hanya bagian yang sangat kecil. Saat seorang kawan memuji kerapihan dindingnya, dia selalu merasa bersalah dan menunjukan bata jelek itu pada kawannya.

Seiring waktu berlalu dia mulai melupakan batu itu, kini dia bahkan tidak dapat menunjuk pada sebelah mana batu bata jelek itu berada. Dari situlah timbul suatu kesadaran bahwa selama ini dia hanya memikirkan satu batu bata jelek di tengah susunan ratusan bahkan ribuan batu bata yang baik.

Mari kita berkunjung ke temanku yang cantik jelita, dia tidak percaya diri dengan sebagian kecil dari wajahnya, kalian dapat melihat bahwa pada setiap foto dia selalu berusaha menutupi bagian itu. Hal ini mungkin terjadi pada 85% foto selfie-nya.

Pernah suatu ketika kubilang tidak ada yang salah, tidak buruk sama sekali bahkan terlihat imut -bukan gombal. Pada titik itu tentu saya mencoba untuk mengerti, bisa saja dia mulai mendapat ketidak percayaan dirinya sejak bertahun-tahun yang lalu hingga akhirnya terpupuk dan tertumpuk hingga subur dan membesar. Bisa saja teman saya menyadari hal itu saat dia bercermin, atau kawannya, saudaranya mungkin pula orang tuanya menggoda tentang bagian tubuh itu.

Morales of story dari kisah ini ada dua, pertama jangan membiarkan hal kecil mengganggu potensi dan hidupmu. Kedua jangan mengolok fisik orang lain, bisa saja itu menyebabkan kehidupan kawan anda semakin sulit bahkan hingga bertahun-tahun ke depan atau selamanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s