Sebatang ara

Aku adalah daun yang menggelayut manja di sebatang pohon Ara satu-satunya di kampung ini. Tiap pagi kulihat ilalang dikebas oleh angin sepoi lembut sebelum ditikam terang panas matahari. Demi melihat hal itu terjadi, tentu aku juga merasakan hal yang sama.
Aku kenal Ara sejak lama, orang-orang memanggilnya sebagai pohon saja. Berdiri tegak sepanjang waktu, diterpa angin saat musim badai hingga bergugur daun saat musim kemarau. Tapi sebagai Ara satu-satunya di kampung ini, dia tidak seperti pohon lain yang suka menyanyi saat hujan datang atau bersiul saat musim layangan.

“Aku hampir tak yakin bahasa yang kugunakan adalah bahasa kaum Ara, se-tak yakinnya diriku akan jadi diriku sebagai sebatang Ara.” Dia bergumam seperti itu suatu saat.

Setelah menimbang-nimbang benar juga yang dia katakan, paling tidak aku dapat mengerti. Sebagai Ara yang tumbuh sendiri seumur hidupnya, dia tak tahu bagaimana mengenal diri sendiri kecuali dari cerita yang dibawa angin.
Bahkan aku yakin dia tak paham dari mana benihnya berasal, bagaimana pula sampai tumbuh di tanah ini. Seekor burung pernah bilang bahwa tupai yang membawanya, tapi angin mengabarkan tak ada kumpulan Ara lain di dekat sini.
Namun bukankah aku juga bagian dari Ara, sepucuk daun Ara yang sebentar lagi akan terbang diterpa angin kering kemarau. Menjadi daun Ara tak lantas membuatku kesepian, aku bukanlah satu-satunya daun Ara di kampung ini. Ara tak pernah tahu apa yang kami pikirkan, kumpulan daun-daun yang tumbuh dari batang-batangnya. Mungkin seperti manusia yang tak pernah tahu apa yang dipikirkan tiap helai rambutnya.
Orang-orang kampung ini hanya memanggilnya sebagai pohon. Bisa jadi karena mereka tidak pernah tahu tentang pohon Ara, bukankah itu juga dapat dimaklumi mengingat tak ada lagi yang seperti dia di sini. Walau begitu aku curiga, bisa jadi Ara adalah satu-satunya di tanah ini, atau mungkin di negeri ini. Bisa jadi dahulu kala benihnya terbawa oleh burung raksasa yang telah punah dari tanah seberang.
Besok saat matahari tepat di atas batang tertinggi, aku akan pergi, saat itu angin sedang kencang-kencangnya. Aku akan terbang bersama angin, terbang jauh melintasi selat menuju tanah seberang. Mencari Ara yang lain, ingin kukabarkan pula ke seantero negeri ini tentang pohon yang tak bersiul di musim layangan, tentang pohon Ara satu-satunya di kampung ini.

2 thoughts on “Sebatang ara

  1. Mengapa setelah perjalanmu yang begitu jauh di mana ajal adalah niscaya, engkau hanya hendak memberitakan tentang Ara yang tak bersiul di musim layangan? Tidakkah engkau ingin bertemu dengan saudaramu sesama daun ada: mengungkit nostalgia romantis di mana daun ara adalah perintis norma kesopanan?

  2. Bukan tentang apa dan siapa sebenarnya pohon ara itu sebenarnya, tetapi bagaimana sebuah wujud kebenaran yang tidak dapat dibuktikan oleh hampir semua unsur alam. Di situ muncul harapan untuk mengetahui kebenaran lewat sebuag usaha paripurna yang penuh tekat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s