Rumah, ah

Malam perjuangan telah usai
Pembenaran-pembenaran panjang yang biasa saling berdebat dan membela
Kini telah usang

Di rantau
Di seberang pulau tanah rumah
Hangat pasir putih di pinggir pantai tetap sama
Bau hujan yang jatuh ke tanah tetap sama, lembabnya, uapnya, suasananya

Namun apa gerangan yang tetap dapat disebut tanah rumah
Bila pengikatnya telah runtuh diruntuhkan harapan

Tak ada lagi sembunyi di balik kebun tebu
Memadu rindu, menyemai hangat gairah masa remaja
Tak bisa lagi mengatur waktu mengendap dalam gelap
Menjemput kelengahan situasi untuk mereguk nira manis sang kekasih

Herannya bagaimana amat bodohnya tanah rumah
Dipersembahkan pada nasib malang yang menghapuskan artinya
Menghapuskan arti rumah, arti dirinya sendiri

Sejak mulut-mulut manis para pembisik
Dan rayu-rayu dibalik kasih sayang sanak saudara
Telah diambil kekasih oleh pria tanah sebrang

Kini nira itu tak lagi manis
Begitupula rumah tak lagi terasa rumah

Bahkan saat kaki, paru dan telinga bernostalgia dengan tanah rumah
Hati tetap tak dapat melupakan bahwa ini bukan rumah
Saat mata melihat sanak saudara dan kawan
Masih terasa benci dendam akan kegagalan mereka mempertahankan rumah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s