Arti salam yang dulu sering saya ucapkan

Saat masih menjadi mahasiswa S1 saya aktif di suatu lembaga mahasiswa yang bergerak di bidang penalaran, tempat berkumpul mahasiswa-mahasiswa lapar akan wacana dan aktualisasi diri. Saya sangat bersyukur lembaga ini tidak memiliki tujuan yang secara eksplisit “jelas”, sehingga kegiatan apapun dapat dilakukan asal tidak dianggap menyimpang dari semangat dasar (walaupun pada akhirnya dapat menyipmang tatanan dasar norma umum). Namun pada umumnya kami hanya berkumpul dan mengobrol atau bahasa kerennya berdiskusi.

Satu hal yang menarik dalam organisasi tersebut memiliki ucapan salam yang selalu digunakan untuk memulai berbagai acara, kami menyebutnya salam penalaran. Bagaimana cara menggunakan salam itu? Sangat mudah! Pastikan anda mengacungkan jari telunjuk kiri bersamaan dengan mengucapkan (apalagi kalau bukan) “Salam Penalaran” dengan penuh semangat.

Walaupun ucapan ini sangat sederhana, namun saya menangkap ada suatu semangat yang ingin disampaikan lewat acungan jari telunjuk kiri. Sangat umum diketahui bahwa tangan kiri adalah lambang perlawanan, lambang ketidak tenangan akan kondisi yang ada. Mari kita sebut hal itu sebagai tradisi perlawanan kiri, bila sayap kanan diartikan sebagai kekuatan yang sedang stabil dan berkuasa maka kelompok kiri adalah penentang dari kondisi yang ada. Suatu wujud ketidakpuasan yang melatarbelakangi perlawanan terhadap kekuasaan yang ada.

Ada satu hal yang menarik dan selalu menjadi ciri khas tradisi pergerakan kiri yaitu tidak memiliki otoritas dan kekuasaan (lack of power), karena itulah kaum kiri harus memiliki dasar untuk mendukung pendapatnya di luar kekuatan dan kekuasaan. Dalam pergerakan kiri kaum marxis dikenal istilah pergerakan yang saintifik (scientific) alias ilmiah, sehingga setiap pendapat dibangun dan disusun dalam kerangka ilmiah akademis yang didasarkan pada dialektika.

Pergerakan penalaran harus didasarkan dan dibangun pada kerangka ilmiah, mungkin itulah yang dikandung dalam acungan jari kiri dalam salam penalaran. Sangat menarik mengingat saat kami berdiskusi selalu diisi oleh argumen, data dan argumen berdata, walaupun kebanyakan argumen kami masih dalam tataran pseudo ilmiah.

Apa itu ilmiah, metode ilmiah dan dialektika?

mari kita bahas belakangan

Salam Penalaran!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s