Surat Untuk Malam

Dear Malam,

Gerimis tiga hari yang lalu mengingatkanku pada 60 hari yang kita lalui, memoriku terpancing oleh wangi melati dari rumah yang sama yang kita lewati malam itu. Saat itu kamu menciumnya lebih dulu dan memaksaku untuk menghirup dalam-dalam udara dingin malam, “wangi kan!” Katamu ceria melihatku tersenyum saat menghirup nafas panjang-panjang. Tahukah kamu saat itu aku memang mencium wangi melati, namun aku tersenyum karena saat itu telah kau pasang penanda dalam perjalanan waktuku. Saat itu terjadilah asosiasi antara waktu dan aroma, asosiasi antara wangi melati dengan keceriaanmu. Seperti saat aku tiba-tiba merindukan kakekku bila mencium aroma manis rokok kretek, itulah yang akan terjadi dengan wangi melati.

Benarkan? Tentu kamu ingat waktu itu, kuharap kamu tersenyum saat ini.

Kalau dihitung-hitung dan diingat-ingat memang kamu yang paling berhasil menancapkan kesan paling mendalam pada rentang waktu yang singkat. Coba tebak apalagi yang membuatku tiba-tiba mengingatmu? (Tebak dulu, jangan lanjutkan membaca !)

Sebelum aku memutuskan datang ke kotamu, pernah kuceritakan padamu tentang kesibukanku yang benar-benar bikin gila. Memang hampir saja gila bila tidak mendengar suaramu tiap malam walaupun jauh dari seberang sana.

Aku bersamamu selalu di sampingmu
Untuk menjadi teman hidup dalam sempurna cinta kita
Kau getarkan hatiku saat bait itu kau nyanyikan, merdu, sendu dan syahdu. Pasti kamu ingat saat selesai kau nyanyikan lagu itu aku diam cukup lama dan kau mengulangnya lagi. Rasanya kamu seperti seorang putri yang sedang merapal mantra agar sang kekash yang ada di medan perang selalu kuat dan tabah. Benar-benar saat itu terasa belaianmu, usapan jari-jari lentikmu menghapus tetes air mata di pipiku. Aku melesap pada waktu, aku menyesap suaramu perlahan hingga kelopak mata tak mampu menahan titik air mata.

Kamu masih di situ kan, masih bersamaku lewat surat ini ? Masih separuh dari cerita genap yang ingin kusampaikan padamu kali ini.

Tentu kini kondisi kita sudah jauh berbeda, kamu semakin jauh dariku dan hidup tak lagi sesederhana dulu. Pernahkah kamu memikirkan hal yang cukup lucu kalau dipikir-pikir, jalan-jalan yang kulalui setiap hari adalah jalan-jalan yang dulu kau lalui. Namun tentu saja jalan yang kau lalui sekarang bukan jalan yang sama dengan jalanku, kamu sudah lebih jauh lagi.

Namun sama seperti aroma manis rokok kretek yang mengingatkan pada kakekku dan wangi melati yang menghadirkan senyummu, lantunan lagu itu (belakangan aku tahu judulnya Sempurnalah Cinta) berhasil menghadirkan dirimu pada pangkal imajiku.

Tidur nyenyak malam, semoga kita dapat bertemu lagi dan merajut 60 hari indah yang lain

Kasihmu,
Hujan

One thought on “Surat Untuk Malam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s