Belum

Kami belum sempat berkenalan, bahkan belum pernah bertemu. Dia tidak pernah mengenalku, melihat wajahku, mendengar suaraku apalagi menyentuh kulitku. Akupun juga begitu, tak jauh berbeda, kutahu namanya, senyumnya, wajahnya tetapi tidak suaranya, baunya, apalagi hatinya.

Dunia kini begitu rumit setelah ditemukan satu dunia baru, dunia tak nyata, dunia maya. bagaimana bisa orang dahulu  membayangkan keadaan pada masa kini, kami laki-laki lajang jatuh cinta pada gadis yang tidak kami kenal, bukan lewat surat dari Ibu yang tersisip foto ayu anak gadis kampung sebelah, melainkan lewat jaring-jaring kusut tak kasat mata dunia maya.

Jadi kalau ditanya apakah ini tentang kisah cinta? Tentu aku bingung. Beberapa hari yang lalu kawanku bercerita tentang ilusi kecantikan, bayangan semu, duniawi, Human service belaka. Itu cukup menohok bagi kaum lelaki yang menghabiskan waktu di dunia tak nyata, seperti diriku.

Namun di titik ini, kisah tak akan berlanjut seromantis kisah Romeo dan Juliet. Bayangkan seorang lelaki biasa mengaggumi gadis tercantik di masa raja-raja jaman dahulu. Gadis itu tak pernah nyata, hanya hidup dalam cerita-cerita tetangga, orang-orang kecil tak pernah mengira ataupun berharap dapat bertemu dengan gadis itu secara nyata. Jadi lelaki itu hanya akan tua dan mati dengan ditemani oleh bayangan gadis yang wajahnya pun dia tak tahu.

Tapi tunggu dulu! Masih ada jalan lain. Lelaki itu bisa memutuskan untuk berkeliling ke seluruh penjuru kerajaan. Mencari gadis yang selama ini hanya hidup dalam cerita, demi bertemu dan mendengarkan suaranya atau hanya untuk membuktikan gadis itu benar-benar hanya ada dalam khayalan rakyat jelata yang merana.

Baiklah, lagi pula ini bukan jaman dahulu. Dua bulan lalu kuputuskan untuk bertemu, berkenalan, menjabat tangan dan mendengar suaranya. Kususun rencana tentang bagaimana aku menemuinya, di mana, kapan, memakai baju apa dan parfum apa. Ada suatu simulasi kecil di kepalaku, bagaimana senyumnya saat kusapa, kalimat-kalimat pertama yang  telah ku siapkan, hingga saat kami berjabat tangan.

Besok adalah hari yang kupersiapkan untuk menemui dan berkenalan dengannya. Kudatangi jalan yang biasa dia lalui tiap sore – menurut informasi dari kawanku- sambil kuputar rekaman simulasi di kepala, kuulang-ulang beberapa skenario yang telah kususun rapi. Saat sedang menikmati simulasi skenario indah itu, tiba-tiba ada yang menyapaku dari belakang.

Aku menoleh dan membalik badan.

“Hai, kamu Bagus ya? Kenalkan saya Rosa. Mungkin kamu kaget dan bertanya-tanya siapa aku dan bagaimana aku tahu namamu. Duduk di situ yuk.” Gadis itu tersenyum manis, sambil menunjuk ke arah bangku taman terdekat. Aku hanya bisa mematung.

“Hai, kamu Rosa ya? Kenalkan saya Bagus. Mungkin kamu kaget dan bertanya-tanya siapa aku dan bagaimana aku tahu namamu. Duduk di situ yuk.” Itu adalah dialogku, kalimat pertama yang kusiapkan sejak lama. Kini dia mencuri segalanya, dialogku, skenarioku dan senyumnya menawan hatiku.

Kami kini duduk berdua di bangku taman, telah bertemu, berkenalan dan saling mendengarkan. Kami mulai mengenal sentuhan, bau dan hati masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s