Aku suka Kopi

kopi

“Aku suka kopi!,” itu jawabku saat Bu guru menanyakan tentang minuman yang paling kami suka.

Tidak semua temanku menjawab dengan cepat dan benar, contohnya Nuril, dia sempat berpikir agak lama hingga akhirnya menjawab jeruk, mungkin yang dia maksud jus jeruk. Asih lebih parah lagi, setelah sangat lama berpikir, akhirnya dia mengatakan suka es krim. Kurasa jawaban Asih salah, es krim bukanlah minuman kecuali dia membiarkannya beberapa saat hingga mencair.

Sebenarnya jawabanku pun tidak kalah anehnya bagi teman sekelasku, Kopi. Selama ini yang kita tahu ayah, paman dan kakeklah yang minum kopi, singkatnya kopi adalah minuman orang tua.

“Yee, Rani seperti orang tua!” Teriak Soni.

“Bu guru, kita boleh minum kopi ya?” Tanya Rara ke Bu guru.

“Boleh kok, aku sering minum kopi kakekku,” jawab Dewi sok jago, sepertinya dia tidak mau kalah dariku.

“Pasti Rani pakai gula sepuluh sendok,” kata Edi melebih-lebihkan ekspresinya.

Sebenarnya aku bingung kenapa minuman ini diidentikan dengan orang tua. Apa karena minum kopi membuat susah tidur, atau karena rasanya yang pahit membuat banyak anak seusiaku tidak suka?

Kopi pertama yang aku minum adalah kopi pertama buatanku untuk ayah. Waktu itu hari minggu, seperti biasa ayah sedang memotong dan merapikan rumput di halaman rumah. Karena Ibu sedang ke rumah kakek, jadi aku membuatkan ayah kopi pagi itu. Membuatnya cukup mudah, aku sering melihat Ibu membuatkan ayah kopi. Satu sendok gula dan dua sendok kopi, lalu seduh dengan air panas.

Kopi itu tidak kucicipi, karena aku tidak suka rasanya, pasti pahit. Setelah menaruh kopi di meja depan rumah, kupanggil ayah. Aku tunjukan kopi itu padanya, Ayah saat itu langsung mendekat dan meminum kopi di meja. Kutanya ayah apakah kopi buatanku enak. Ayah menjawab sambil mengusap rambutku, “Enak sekali, putri ayah pintar ya.” Senang rasanya ayah suka kopi buatanku.

Saat ayah kembali memotong rumput, aku mencicipi kopi itu, rasanya pahit dengan sedikit rasa manis di belakangnya. Ayah bohong pikirku, rasanya tidak enak, pahit!

Segera aku berlari ke arahnya sambil menangis dan memukul dadanya.

“Eh kenapa menangis Rani?”

“Ayah bohong, kopinya pahit, gak enak!” Aku berbicara sesengukan.

“Lho ayahkan bilang enak.”

“Enggak, enggak enak!” Jawabku sambil menangis. Saat itu ayah langsung mengangkat dan menggendongku.

“Begini putri ayah yang paling pintar,” kata ayah sambil mencubit kecil hidungku.

“Rani tahu kenapa orang besar suka kopi? padahal rasanya pahit.”

“Karena diberi gula yang banyak.”

“Bukan itu sayang,” kata ayah sambil mencubit pipiku.

“Trus apa yah?”

“Hmm, nanti kalau sudah besar baru kamu mengeri jawaban ayah ini.”

“Rani kan sudah besar yah,” kataku masih sesengukan.

“Iya iya, ayah suka kopi karena,” ada sedikit jeda dari jawaban ayah.

“Karena rasa kopi yang pahit mengingatkan ayah di tengah pahitnya hidup, masih ada yang lebih pahit.”

“Hidup kok pahit yah?”

“Iya kan Rani belum ngerti. Gini deh, dengan minum kopi ayah merasa lebih bahagia.” Jawab ayah sambil mengusap-usap kepalaku.

“Orang besar memang aneh,” jawabku.

Jadi aku suka kopi bukan karena aku suka minum kopi, tapi karena minuman ini membuat ayah bahagia.

Yogyakarta, 5-2-2014

One thought on “Aku suka Kopi

  1. Pingback: Kopi, kita bukan kawan lagi | In My Honest Opinion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s