Komunisme dan Agama

Saya cukup kecewa dengan salah satu forum di Facebook yang dikhususkan untuk mendiskusi komunisme, ternyata di dalamnya banyak orang yang bukannya mau belajar atau berdiskusi tetapi malah trolling ataupun berdebat di topik yang sungguh sangat menjemukan. Topik yang menjemukan tersebut adalah tentang hubungan komunisme dengan Ateisme atau lebih umumnya adalah bagaimana komunisme memandang keberadaan agama.

Sudah terlalu banyak tulisan dan diskusi yang membahas tentang topik ini, namun tetap saja saya gatal untuk ikut menulis tentang hal ini. Namun tulisan ini bisa saja misleading apalagi bila digunakan untuk memandang komunisme “modern” saat ini.

Komunisme dan Lenin

Perlu diperjelas terlebih dahulu  bahwa komunisme saat ini adalah komunisme yang berhasil didefiniskan oleh Lenin lewat terobosan pemikirannya dalam bentuk pengorganisasian revolusi dan penegasan dasar ideologis dan filosofis. Pemikiran-pemikiran Lenin selama perjuangannya baik sebelum maupun setelah revolusi oktober telah menjadikan komunisme tidak hanya menjadi kajian para filosof maupun ekonom, tetapi telah menjadi satu dari kekuatan dunia terbesar. Dengan alasan itulah cara pandang Lenin akan berbagai hal telah terintegrasi menjadi cara pandang maupun cita-cita komunisme atau bisa disebut komunisme leninisme (begitu stalin mem”formal”kan ideologi ini).

Pandangan Lenin terhadap Agama

Tidak mengejutkan bila Lenin memiliki pandangan yang menjadi ciri khas seorang Marxis, yaitu menganggap Agama sebagai suatu hal yang negatif bagi masyarakat. Marx memandang agama sebagai candu bagi masyarakat, wujud nyata keputus asaan masyarakat terhadap kehidupannya :

“Religious suffering is, at one and the same time, the expression of real suffering and a protest against real suffering. Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people.” [1]

Bagi saya pemikiran Lenin akan agama merupakan satu lompatan quantum dari pemikiran Marx, dia memandang lebih dalam dan sinis akan posisi agama di tengah masyarakat :

“Religion is opium for the people. Religion is a sort of spiritual booze, in which the slaves of capital drown their human image, their demand for a life more or less worthy of man.” [2]

Lenin menekankan bahwa Agama adalah bagian alat kaum kapitalis untuk membungkam dan juga meneruskan penindasan terhadap masyarakat, karena itulah pembebasan dari agama sama pentingnya seperti pembebasan dari penyedotan kapitalisme. Baginya kaum sosialis seharusnya menggunakan ilmu pengetahuan dalam pertarungan melawan kabut agama untuk menyadarkan kaum proletar dari kepercayaan akan kehidupan setelah mati, dengan begitu kaum proletar akan lebih fokus untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik di dunia.

Posisi agama dalam kepemimpinan Revolusioner Komunisme

Pandangan Lenin akan agama sangat mempengaruhi bagaimana Lenin menempatkannya dalam sebuah negara komunisme maupun struktur organisasi partai revolusioner. Dengan sangat tegas Lenin mengatakan bahwa agama adalah urusan pribadi seorang manusia, negara tidak akan memegang apalagi dipengaruhi oleh agama.

“We demand that religion be held a private affair so far as the state is concerned. But by no means can we consider religion a private affair so far as our Party is concerned. Religion must be of no concern to the state, and religious societies must have no connection with governmental authority.” [2]

Walaupun begitu pembebasan kaum proletariat dari kabut gelap yang bernama agama adalah salah satu cita-cita komunisme, karena Atheisme yang menjadi antitesis dari agama adalah salah satu syarat terwujudnya masyarakat komunis. Karena itulah walaupun pada perjuangannya Lenin tidak secara explisit mengkampanyekan Atheisme namun bukan berarti hal itu tidak diperhatikan.

Posisi saya dalam memandang hal ini

Sikap Lenin dan komunisme tentang agama sangat jelas, bahwa walaupun partai dan negara komunis menganggap bahwa Agama adalah urusan pribadi namun tidak ada tempat bagi agama dalam negara komunis. Hal itu berarti tidak ada kolom agama yang harus di isi, tidak ada subsidi untuk pembangunan ataupun kegiatan keagamaan, tidak ada perlindungan bagi kehidupan beragama, lebih keren lagi adalah tidak ada pelarangan bagi keberadaan satu agama apapun (tidak seperti negara kita yang beragama tetapi melarang masyarakatnya untuk menganut suatu agama).

Topik menarik untuk dibahas adalah memahami kenapa pemerintahan komunis melakukan pembatasan beragama bagi masyarakatnya, kita bahas suatu saat😀
[1] Critique of Hegel’s Philosophy of Right / Zur Kritik der Hegelschen Rechtsphilosophie (Marx:1843)
[2] Socialism and Religion (Lenin:1905)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s