Aku Tak Mengenalimu

“Ayo makan!” ada seorang laki-laki menepuk pundakku.

“Duh malas nih, tapi lapar. Mau makan di mana?”
“Oh, gak biasanya kamu malas makan. Ayo yang penting jalan dulu.”

Namanya Aldo, hitam manis, kacamata minus empat, seorang geek sejati, berambut keriting dan jarang mandi. Suka tidur pagi, kerja malam, mungkin itu sebabnya dia gak dapat pacar bertahun-tahun seserius apapun usaha yang dia lakukan.
Pernah dia suka teman sekelas saat SMP, setiap hari dia kirim puisi ke Mona (Iya namanya Mona). Dia menitipkan setiap puisi yang dia buat pada teman sebangkunya, wal hasil mereka menjadi sangat lengket, eh maksudnya Mona dan teman sebangkunya. Masih banyak cerita menarik tentang Aldo, tetapi bukan sekarang waktunya karena ini kisah kami bertiga. Tokoh ketiga akan segera muncul kok, tenang saja.

“Aku ada pikiran ribet Do kali ini.”
“Soal cewek.”
“Iya, tahu aja kamu.”
“Apalagi? Bukannya sudah biasa.”

Pelajaran nomor 1 tentang Aldo, dia benar-benar sok tahu!

“Kemarin waktu di bus ketemu cewek Do.”
“Rambut panjang, hidung mungil, mata coklat.”
“Dan senyumnya ..”
“Manis, matanya lucu pas senyum, kamu juga gemas lihat hidungnya, pengen nyubit hidung.”
“Iya, kayaknya kamu lebih tahu deh.”

Benarkan! Orang satu ini selalu sok tahu, mungkin suatu saat dia akan tahu kapan maut menjemputnya.

“Berdasarkan pengalaman kamu pasti ngobrol tentang kuliahnya trus diam trus ngobrolin makanan khas daerah masing-masing trus yang terakhir ngomongin hidup, cinta dan cita.”
“Ok ok, aku gak perlu cerita kalau begitu, kita makan aja.”
“Tenang Zul, aku kenal kamu sudah lama dan gak sekali kejadian seperti ini.
Hmm… Sebentar kuingat dulu,
ada Mita, Dita, Lita, Ita yang sekarang paling namanya Nita”
“Iya deh, kamu benar. Kecuali namanya, kali ini Gita”

Jangan tanya tentang kejadian-kejadian yang berhubungan dengan cewek-cewek bernama Ita dan variasinya. Bagaimana ceritanya, kenapa nama-nama itu bisa sama atau bagaimana Aldo bisa tepat sasaran, aku juga tidak tahu.
Satu hal yang saya tahu benar adalah nasehat Ibuku, “Nak jadilah laki-laki yang kuat dan bertanggung jawab. Dulu Ibu ingin anak perempuan, akan Ibu beri nama Zulita.” Sampai sekarang masih belum jelas hubungan antara kuat bertanggung jawab dengan nama Zulita. Tapi sepertinya itu berpengaruh ke kisah cintaku secara tidak langsung.

“Do, tapi kamu tidak bisa memukul rata semua kisah itu! Walaupun polanya sama tapi yang kami bicarakan tentu bervariasi, rasa dan getarannya pun beda!”
“Ok”, jawab Aldo
“Cuma ok?”
“Okelah.”
“Cuma okelah?”
“Trus?”
“Sudah lah.” aku capek sama Aldo

Kita anggap aldo belum tahu cerita bersama Gita, akan kuceritakan pada anda juga Aldo tentunya.

Jadi sore itu di tengah perjalanan menuju Jogja – seingatku di daerah Magetan – ada seorang perempuan naik ke busku. Dia berdiri sambil menerawang mencari bangku yang kosong, dia terlihat kelelahan. Ada dua pilihan : Seorang cowok lusuh berjaket abu-abu bertampang cina atau seorang Ibu gemuk yang memakan separuh bangku lebih dari jatahnya sendiri, jadi mudah ditebak dia akan duduk di mana. Akhirnya dia duduk sebangku dengan Ibu gemuk, 10 menit kemudian sesaat setelah bapak berkopyah hitam turun dari bus, dia segera menempati tempat bapak itu. Bapak itu duduk sebangku denganku, 2 bangku di depan ibu gemuk dan samping kanan laki-laki china tadi.

“Itu tidak berarti kamu lebih baik dari dua orang itu Zul!”
“Sudah diam dulu kamu, aku lanjutkan cerita ini.”

Perempuan itu menatap ke arahku cukup lama, seperti biasa aku memaksakan diri untuk berlagak tidak peduli. Tapi dia terus menatapku sampai kondektur meminta uang karcis padanya. Saat itu aku lega karena setelah itu dia sibuk dengan gadgetnya.

“Mau ke solo ya mbak?”
“Oh iya mas.”
“Kuliah ya, UNS?”
“Musim ujian mas.”
“Ujian? Oh di UNS ujian ya.”
“UNS? Apa itu?”
“Eh kok, kamu kuliah?” Jawabku bingung
“Iya.”
“Di mana?”
“Di mana-mana.” Dia tertara kecil tertahan
“Oke deh, semoga ujiannya lancar ya.”
“Iya terima kasih.”

Setelah itu aku diam, pura-pura memandang pemandangan di luar.

“Cie yang lagi sama cewek cantik.” Ini SMS Aldo saat itu.

Perempuan disebelahku memang cantik – selanjutnya aku bilang gadis aja deh – tapi aku tidak terima dengan ke-sok-tahuan Aldo yang tepat sasaran. Sok tahu yang beruntung.

“Jangan sok tahu kamu.” Balasku
“Jangan pura-pura lihat jendela terus.” Balas Aldo
“Sial Aldo.” Balasku dalam hati

Aku merasa gadis itu sedang menatapku lagi, “Apa yang harus aku lakukan? Pura-pura tidur? Mengajak bicara? Atau turun dari bus? Sial pilihan yang rumit.”

“Mbak asli Magetan?”
“Oh nggak, iseng aja di situ.” Hah iseng? Gadis ini aneh
“Yah sayang.”
“Kok sayang?”
“Ku kira dari Magetan, aku dari dulu penasaran cara membuat brem.”
“Mau tanya tentang brem?”
“Iya.”
“Aku gak suka itu, juga gak suka durian.”
“Oh ya?”
“Baunya aneh, mahal lagi.”
“Tapi enak.”
“Hiii”, dia meringis, kelihatan lucu sekali.

Pembicaraan makanan ini berlangsung lama, jadi tidak perlu saya ceritakan dengan lengkap.

Hingga ada SMS lagi dari Aldo
“Zul please jangan ngomongin makanan, variatif dikit lah kamu.” Sial lagi-lagi Aldo tepat sasaran.

Aku mulai curiga kalau Aldo ini adalah pengamal ilmu kebatinan tingkat expert. Dia sering keluar tiap tengah malam sampai jam 5 pagi baru kembali ke kost dengan wajah berseri-seri.

Kujawab singkat “OK”

Sebenarnya bisa juga si Aldo hanya menebak-nebak saja, mengingat aku sering bercerita hal yang sama beberapa kali, hampir sama tepatnya.

“Kamu suka baca buku?”
“Novel, teenlit, cerpen. Tapi itu dulu.”
“Kenapa dulu, sekarang?”
“Gini mas, aku merasa tulisan-tulisan pengarang itu malah membebaniku, tulisan yang bahagia membebaniku dengan bentuk ideal dunia si pengarang, tapi tulisan yang sedihpun memberi rasa tidak aman”
“Iyasih, bukannya begitu juga film dan sinetron.”
“Yap, makanya saya jarang nonton.”
“Tapi mbak, bukannya dari situlah kita bisa belajar tentang dunia, tanpa perlu bersakit-sakit dahulu.”
“Dan kamu akan dibayangi ketakutan yang tidak perlu mas!”
“Lalu kenapa kamu memakai body lotion setiap hari?”
“Maksudnya?” Jawab dia bingung
“Kenapa perempuan memakai body lotion tiap hari? Padahal belum tentu kulitnya akan menjadi kasar atau menghitam bila tidak memakainya. Tapi tetap saja kalian memakainya.”
“Aku mengerti maksudmu, tapi analogimu aneh. Hmm, tidak tepat.”

Lihat kami berdebat dan dia tidak canggung padaku yang notabene orang asing.

Mari kita kembali ke waktu nyata.

“Do rasanya aku kenal perempuan itu.”
“Iya kamu bilang namanya Gita.” Aldo tersenyum geli, menyebalkan!
“Bukan seperti itu, wajahnya familiar.”
“Gak heran sih kamu bilang seperti itu.”
“Kenapa?”
“Ya memang seharusnya seperti itu.”
“Sudah lah Do, kamu bikin tambah pusing.”

Memang wajahnya familiar, tapi rasanya aku tidak punya teman seperti dia.

“Kamu percaya cinta?”, tanya gadis itu
“Eh, kenapa tanya itu?”
“Jawab dulu.”
“Aku gak mau jawab, kamu saja baca cerita novel malas, apalagi ngomongin cinta.”
“Ah kamu ini menohok, dulu aku percaya cinta sejati. Sekarang aku sadar betapa naifnya aku dulu.”
“Ok, lanjutkan.”
“Gini mas, dulu aku percaya cinta itu ada, pangeran berkuda putih, romantis dan tampan. Tiap hari kata sayang dan cinta menghiasi ucapannya.”
“Menarik, sekarang bagaimana?” Pancingku
“Tentu aku lebih sadar diri, aku mulai meninggalkan mimpi-mimpi itu. Walau terkadang masih saja nekat untuk mengejar cinta sejati.”
“Hebat kamu.”
“Iya, tapi mungkin tidak bisa.”
“Kenapa? Kamu harus usaha.”
“Iya, saya sedang berusaha.”

Lalu dia menatapku dalam. Aku kehilangan kata, kali ini aku harus bicara atau bila tidak aku harus pura-pura melihat jalanan lagi. Dalam sepersekian detik aku mengingat bahwa di sampingku adalah gadis cantik yang beberapa jam lalu naik ke bus ini di Magetan, sekarang dia bicara tentang cinta dan dengan penuh perasaan menatap mataku dalam-dalam. Apa yang harus aku katakan?

“Saya doakan kamu berhasil mbak.”
“Iya terima kasih”

Dia lalu diam, tenggelam dengan ponselnya. Kulirik sekilas ada air mata yang mengalir dari ujung matanya, tapi buru-buru dia usap. Dia menangis? Karena aku? Tidak, mungkin dia ingat mantannya atau kekasih yang tidak dapat dia rengkuh. Aku diam juga syahdu, sambil mengingat wanita yang dulu tidak dapat aku kasihi walau kita saling mengasihi. Sejenak aku berusaha menyamai perasaannya.

Tiba-tiba dia bicara

“Saya turun di terminal depan.”
“Hati-hati mbak ya,” Dia memandangku lagi agak lama, hingga akhirnya dia beranjak dari bangku menuju pintu depan bus. Saat aku memperhatikan setitik air mata di ujung matanya, dia berkata lirih
“Kamu hati-hati juga zul,” seraya turun dari bus dan menghilang di keramaian.

Zul? Apa benar dia bilang Zul? Zul namaku? Izul, Izul Mochtar? Nama pemberian Ibuku yang gagal mendapatkan anak perempuan. Aku pusing, saat itu baru aku sadar AC dalam bus begitu dingin, kakiku dingin dan leherku juga. Zul?

Aku diam saja sejak saat itu, tak pernah kuceritakan pada siapapun termasuk Aldo, baru kali ini kuceritakan.

“Do, rasanya aku suka dia.”
“Bukannya sudah biasa?”
“Bukan Do, bukan suka tapi cinta. Rasanya aku bisa merasakan pilunya saat membicarakan cinta.”
“Tapi dia orang asing, dan sok tahu.”
“Ntahlah, bukannya kamu juga sok tahu.”
“Kamu gak suka aku kan?” tanya Aldo nyengir
“Gila kamu!”

Aldo diam, sepertinya akan bicara sesuatu, tapi masih berusaha merangkai kata.

“Tadi nama gadis itu siapa?”
“Gita.”
“Yakin kamu?”
“Iya yakin.”
Aldo diam lagi, ada jeda agak lama.
“Bodoh kamu, bukan Gita, tapi Nita!”
“Jangan sok dukun Do! Aku yang ngobrol langsung sama dia.”
“Kamu yang dukun!” sambil mendorong kepalaku
“Gini zul, kamu ingat Mona?”
“Ah iya.” Nama itu. Menohok rasanya saat Aldo menyebut nama itu.
“Cewek yang aku incar, tiap hari kutitipkan puisi padanya, tapi dia malah suka kamu, orang yang aku titipin”
“Jangan bahas itu Do, aku sudah minta maaf, dia juga akhirnya menjauh.”
“Kamu diam dulu jangan menyela, kamu tahu nama asli Mona? Namanya Monita, dia dipanggil Mona karena ada 3 Nita di kelas kita.”
Ah aku juga tahu itu, tak perlu diberi tahu, aku risih Aldo membahas ini lagi.
“Zul, gadis yang ngobrol dengan kamu itu namanya Nita, Monita alias Mona. Teman SMP kita yang dulu suka kamu dan aku tahu kamu juga, bahkan mungkin sampai sekarang.”
“Do sudah, aku mau pergi.”
“Dengarkan dulu,
Hari saat dia bertemu kamu adalah sehari sebelum dia kembali ke Australia. Katanya dia akan ujian, entah ujian apa kok malah sempat-sempatnya pulang kampung. Tapi itu tidak penting.”
“Ok, Gita juga bilang musim ujian.”
“Bukan Gita, tapi Nita!
Dia telfon aku saat itu, menanyakan kamu di mana. Ku bilang saja kalau kamu ke Jogja naik bus. Tentu kamu ingat saat aku menanyaimu naik bus apa dan sampai mana.”
“Ingat.” jawabku lemas
“Gadis itu.” Aldo diam agak lama sampai disini.
“Gadis itu berpindah hingga 4 bus agar bisa menemui kamu di bus yang sama.”

Tubuhku dingin, jantungku berdebar, mukaku panas, mataku berkaca. Apa iya itu nita? Apa benar aku salah mendengar namanya?

“Kamu tidak percaya?
Percayalah, ini adalah wujud penyesalanku zul! Aku tahu seberapa besar rasamu ke Mona, walau akhirnya harus kau tinggalkan karena kawan hitammu ini.”

Kata-kata Aldo tak kudengar lagi, air mata sudah meleleh di pipiku. Semua kini tampak masuk akal, kenapa Aldo selalu tepat, kenapa gadis itu memilih duduk denganku, kenapa dia memandangiku lama, kenapa dia berbicara kisah cinta yang begitu mudah kucerna, mengapa wajahnya familiar dan bagaimana dia bisa tahu namaku.

Dari situlah aku menyesal, ketidak tahuanku lah yagn menyebabkan dia berlinang air mata. Tapi salah siapa dia makin cantik, salah siapa dia berkaca mata dan kenapa juga dia tidak mengingatkanku saja dari pada memandangiku penuh tanda tanya. Apa dia kira mudah untuk mengingat cinta yang telah bertahun-tahun berusaha dan kupaksa untuk kukubur dalam-dalam? Demi persahabatan.

Sial, aku menangis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s