Masa Muda

Yang namanya masa itu hubungan langsungnya dengan waktu. Persis sama seperti hubungan antara cinta dan rindu, keduanya harus dan pasti ada di saat yang sama. Jadi masa itupun relatif juga sifatnya – seperti waktu – sesuai rumusan einstein akan hubungan percepatan dengan ruang dan waktu.

Ternyata masa itu memang sumber penyesalan bagi mayoritas orang. Baik orang yang tua atau merasa tua. Penyesalan yang paling sesal adalah menyesal mengganggap diri sendiri terlalu tua. Terlalu tua untuk melakukan sesuatu. Pernah?
Pas SMA dulu saya ingin mengikuti pencak silat, tetapi dalam pikiran ini melayang ke masa SMP pas teman-teman banyak mengikuti pencak silat. Kesimpulan saat itu ” Saya terlalu tua untuk memulai mengikuti pencak silat.”
Sekarang? Sekarang baru sadar kalau SMA pun tidak terlambat sama sekali untuk memualai hal itu. Dulu saat masih menjadi mahasiswa baru saya berpikiran sama, bahwa terlambat untuk mengikuti pencak silat saat itu. Akhirnya saya menyesal juga.
Penyakit menganggap diri sendiri terlalu banyak diderita orang segala ukuran mulai dari tua maupun muda, kaya ataupun miskin, pinter sampai goblok. Satu kawan pernah berkata “Ah coba aku belajar matematikasungguhan sejak SMA” yang artinya tidak jauh beda dengan “Aku terlalu tua untuk belajar matematika sekarang. Sudah capai, malas, buat apa juga”. Yah ujung-ujungnya memang menyalahkan waktu yang paling gampang.

Yang pantas dijadikan pertanyaan utama di sini ada dua. Pertama Bagaimana bisa kita merasa tua atau terlalu tua? Jawabannya gampang sekali dan mudah untuk dibuktikan, sangat Mudah.
Waktu yang dijalani manusia ini sama, beda di umur saja. Jadi umur akhirnya dijadikan dasar penentuan tua dan muda. Orang-orang yang merasa tua biasanya karena dia membandingkan diri atau berinteraksi dengan orang yang berumur lebih muda, sesuai dengan rumusan einstein soal waktu – relatif-. Inilah sumber mala petaka bagi pemuda sok tua.
Pemuda dimulai dari umur 17 hingga 35 tahun, cuma anak kelas 3 SMP, 3 SMA atau anak kuliahan sering berkata “I’m too old to do that”, saya cuma bisa bilang “You’re Coward” :p. merasa tua juga dialami oleh banyak orang muda, terutama bagi kakak-kakak senior baik di SMP, SMA maupun mahasiswa. Cek saja berapa hal yang banyak tidak mau mereka lakukan dengan alasan “Bukan waktuku lagi”, “Beri kesempatan adik tingkat”, “Saya sudah terlalu tua untuk urusan itu” dan banyak hal lain. Menurut pengamatan saya sih kebanyakan cuma sebagai pengganti kata malas.
Karena itu jangan gaul sama Maba atau junior saja, apalagi kalau cuma untuk membuat diri merasa telah mature. Itu membunuh. Get out cari mentor, bergabung dengan yang lebih senior agar merasa muda agar energi muda tetap terjaga. Semua tentang persepsi bung!
Kedua adalah apa yang telah dan akan kita capai di masa muda? Pertanyaan ini yang banyak membuat galau orang yang sadar dan berhati besar. Bagaimana tidak, lewat pertanyaan ini penyesalan-penyesalan dalam pemanfaatan waktu akan bermunculan seperti buih dalam kolam keruh. Sudah lama disembunyikan atau dikubur akhirnya keluar juga.
Waktu SMA, saya sudah mengisi seminar, menang beberapa lomba dll. Waktu menjadi mahasiswa pun saya terus berkarya. Paling tidak dari usaha yang pernah saya lakukan membuat penyesalan untuk menjawab pertanyaan kedua menjadi sedikit terobati. Walau tetap muncul penyesalan karena tidak mampu memanfaatkan banyak energi, momen dan kesempatan yang ada pada masa lalu.
Ayo kita masih muda, banyak-banyak berkarya. Mulai sekarang jangan terlalu sok dewasa ke junior, lebarkan sayap ke pergaulan lebih dewasa agar kita senantiasa muda🙂 . Jangan lupa menabung pencapaian dan prestasi agar menjadi benteng dari serangan penyesalan

😀

2 thoughts on “Masa Muda

  1. kalau bilang penyesalan itu seperti buih di air keruh, lama-lama kalau dibiarkan airnya bakal tenang lalu buihnya hilang (kecuali tekanan atmosfer ga bisa menembus tegangan permukaan airnya).
    penyesalan bakal hilang seiring waktu–asal kita ga mengacau.

  2. Cukup tepat menganalogikan penyesalan dengan buih, hanya saja buih tidak dapat muncul lagi. Buih akan hilang setelah dia hilang.
    Tapi penyesalan berbeda, penyesalan yang telah lalu bisa datang disaat paling dibutuhkan atau saat paling tidak diharapkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s