Diary Pink

Dia adalah temanku yang selalu menulis hari di buku diary, kamu dapat membaca manis senyumnya lewat bekas guratan pena di kertas warna coklat bersampul biru. Atau kamu juga bisa menyesap air matanya yang kadang mengalir melewati celah-celah wajahnya saat menuliskan harinya di kertas-kertas itu.
Dia berbeda dengan yang lain, temanku yang lain. Pada saat yang lain memiliki hidup seperti bola liar yang dilempar kuat-kuat hingga arahnya tak jelas, dia tidak. Dia tidak terima dengan kenyataan hidup yang memang seperti itu. Dia memberi jalan bola liar itu agar dapat dikendalikan arahnya, atau bila kamu lihat mirip dengan pengekangan. Dia cuma bilang itu semua untuk menjaga orang yang dia cintai agar selalu di sisinya, aku belum paham sampai sekarang apa maksudnya.


Kamu harus tahu bahwa kertas coklat dan sampul biru itu adalah buku kelima puluhnya dalam bentuk yang sama persis. Kertas coklat bertekstur dan bersampul biru itu tidak hanya berbentuk sama, tapi juga berbau sama, bau melati. Kotak kayu kecil memiliki tugas menyimpan buku dan melati selama 30 hari sebelum dipakai. Tentu dia mengganti bunga-bunga layu dengan yang baru setiap 5 hari. Hal itu berulang untuk tiap bukunya selama bertahun-tahun.
Cuma ada satu yang berbeda bila kamu berkesempatan melihat rak bukunya. Di antara jejeran novel dan buku diary, ada buku diary yang letaknya di tengah. Bukan warna biru permen seperti yang lain, tapi pink pastel manis yang membalutnya. Persis seperti melihat mata air di tengah gurun, atau sebongkah batu merah di antara batu hitam.
Buku itu ada di situ sejak aku mengenalnya. Hanya disentuh pada saat-saat tertentu. Waktu dia berulang tahun seusai kawan-kawannya pulang, dia hanya akan meredupkan lampu kamar, mengambil buku itu dan memeluknya hingga tertidur. Begitu juga saat ayahnya meninggal, saat dia jatuh cinta atau saat dia putus cinta.
Persamaan dari buku itu dengan diary miliknya yang lain adalah kamu dan aku rasanya tidak akan tahu apa isinya. Kalau boleh ingin kubaca kisah hidupnya mulai dari buku pertama hingga yang ke lima puluh. Apa pernah aku menanyakan isinya? Pernah, hanya sekali dan tak ingin aku bertanya lagi. Aku tak tahan dengan kisahnya yang kelam dan penuh penyesalan.

Dia pernah bilang dan bercerita panjang padaku

Kamu gak akan mau membaca diary-diaryku kalau kamu tahu isinya. Bukuku yang berbeda itu (sambil menunjuk diary pink di rak buku) isinya hampir sama, walau berbeda juga seperti sampulnya.
Itu kumpulan kata yang tak mampu ku ucap saat belaiannya di rambutku terasa hangat. Kata sayang dan bahagia yang terlalu berat kukatakan hanya karena aku gengsi dan tak mau dibilang anak kecil. Ada senyumku yang tak tersampaikan saat dia mencium keningku di pintu depan rumah saat aku berangkat sekolah, tentu dia cuma dapat bibirku yang sedemikian rupa kutekuk agar memiliki arti “Aku udah gede, stop jangan seperti ini”.
Pernah aku berteriak bahagia dan berlari-berputar dibuku itu, saati dia memberiku sepatu manis bewarna merah. Saat itu ingin rasanya aku memeluknya dan menghentikan waktu saat itu juga selamanya. Tapi tetap saja cuma senyum kecil dan terima kasih lusuh yang kuberikan padanya. Walau kalau dia tahu, hati dan mataku memeluknya hingga menembus tulang.
Hingga kini aku selalu memiliki imaji dalam kepalaku berupa titik hitam yang mengambang dan tak mau hilang. Titik itu merupa pedih dan sakit saat bahagia atau derita datang padaku. Meneteskan sesal yang teramat pahit di momen bahagiaku atau menyiram garam saat aku terluka. Disatu titik seperti itu ingin aku menghentikan waktu untuk sekalian saja kunikmati pedih itu, hingga titik hitam itu membesar dan meledakan kepalaku.
Bagaimana tuhan begitu kejam dengan membiarkan ciptaannya merasakan pedih penyesalan se sesal ini. Sedangkan katup hati yang berupa mulut tak memberi kesempatan padaku untuk mengucapkan terima kasih dan senyum manis yang sederhana untuk Ibuku yang memberi buku bewarna Pink itu.

Lalu dia menangis di pelukku, temannya yang dia lupakan sejak saat yang lalu. Sebuah mobil menabraknya saat dia berlari menyeberang jalan depan rumah sambil melambai menunjukan sebungkus kado di tangannya yang kuduga untukku. Isinya sebuah bando manis dengan tulisan kecil “terima kasih Ibu” berwarna pink. Kejadian itu tidak cukup untuk membuat dia meninggalkanku selamanya, tapi cukup untuk membuatnya melupakanku sebagai Ibu.
Menangislah, Ibu tahu cinta di balik senyum seadanya dan terima kasih lusuhmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s