Minyak goreng

“Bang kau ini cepat sana narik becak, mau kau isi apa perut kita?, tegur Imah. “Iyo sek mah, abang masih mikir”, jawab Sapto lemas.

Hingga matahari hampir dijemput adzan dhuhur Sapto masih saja duduk di dipan dalam rumah. Dia seperti berpikir keras, lebih mirip prajurit yang takut mau laporan ke komandan. “Dek imah”, panggil Sapto, “Aku masih mikir keras”. “apa, ada apa bang?”, ceritakan isi hati kau pada istrimu”, sahut Imah.

“Dek imah, tempe goreng buat sarapan tadi bumbunya apa?”, tanya Sapto. “biasa saja bang, bawang garam seperti biasa”, jawab Imah. “Tapi rasanya beda”, “Iya, aku goreng pakai minyak rambutmu”, jawab Imah enteng.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s