Sepatu coklat yang menempel di kepala

baju merah

Langit mendung di ujung jauh pagi ini mengantarkan hari pada mataku yang baru saja terbuka. Udara dingin menyeruak segar melewati jendela kamar yang terbuka setengah. Memberi kesejukan dan kedamaian ke dalam jiwaku sebagai bekal menjalani hari, tidak seperti jam waker yang membangunkan tanpa memberiku bekal cukup untuk hari.

Pagi ini seperti biasa, setelah shalat subuh kujauhkan ponsel dan kuseruput teh pahit sisa semalam, bedanya kali ini aku menuliskan hidupku kemarin. Aku membayangkan ujung mendung yang menggantung dapat kurengkuh lewat untaian kenangan manis hari yang lalu.

Dua malam yang lalu kami cukup sibuk mempersiapkan even pemasaran produk terbaru dari satu perusahaan jasa telekomunikasi terkemuka. Malam-malam menjelang acara selalu melelahkan, video promosi belum siap, logistik booth belum lengkap hingga MC yang mendadak sakit. Malam itu kuhabiskan waktu sampai dini hari menemani tim kreatif sinematografi untuk menyelesaikan video promosi. Walaupun cuma menemani saja, team terkadang tetap harus ditemani agar moral kerjanya tetap positif apalagi disaat kritis seperti ini.

“Aku tambah tidur dua jam lagi, kalian bisa handle tanpa aku kan”, ku telefon Ferry sesaat setelah alarmku berbunyi. “Eh enak banget, ya sudah istirahat saja dulu, bagianmu juga sudah beres”, jawab Ferry. Ternyata tidak seperti yang diharapkan, sejak jam 5 pagi kulanjutkan tidur sampai jam 9. Tanpa pikir panjang dalam 15 menit ku selesaikan rutinitas wajib di pagi hari : mandi, menseruput teh pahit sisa tadi malam, cuci piring dan menutup jendela.

Kenangan manis itu diawali hari ini.

Kukayuh sepeda menembus jalanan kota yang tetap saja macet padahal pagi sudah hampir habis. Kulibas jalan dengan cepat agar dapat merasakan sisa udara pagi membelai halus wajah dan rambutku. Sesampainya di tempat even segera ku basuh tubuhku dengan handuk dan berganti baju. Aku berenang dalam kesibukan lagi, menjadi buruh bagi orang-orang yang haus akan hiburan.

Siang ini ajaib, tidak seperti siang-siang yang lain. Matahari menyengat kulit dan menyilaukan mata seperti biasa. Tetapi mendung kembali menggantung, memberikan jeda cukup bagi manusia untuk menikmati hari dengan nyaman. Apalagi tuhan mengirimkan angin yang cukup kencang beberapa waktu, menyajikan tarian daun-daun kuning dan coklat yang semula berserakan di pojok jalan.

Dari tempatku berdiri terdapat taman dengan tempat duduk berjejer di tepi kolam ikan koi. Airnya bening, melompat-lompat ditekan oleh struktur mekanik air mancur, menjadikan lenggak-lenggok warna-warna tubuh koi-koi itu makin mempesona.

Kumasukan dua ribu rupiah ke kotak uang di pinggir kotak kue yang sengaja ditaruh di salah satu bangku taman. Sambil kunikmati kue itu kulihat wanita yang tampak gelisah di dekatku. Dekat sekali, jarak kami hanya 2 meter. Dia tampak gelisah, berdiri sambil terkadang mondar-mandir kecil.

Rambutnya coklat gelap sebahu, berdiri memakai tas punggung berbahan jeans berwarna krem kehijauan. Di sisi kanannya menggantung jaket biru yang diikat di strap kanan tasnya. Wajahnya tajam walau kini diliputi kegelisahan. Dia beberapa kali melempar pandangan jauh tanpa memperdulikan aku di sampingnya.

Kuputuskan akan menyapanya setelah kue yang ada di tangan habis. Kupandangi saja dia sesekali, celana jeans biru yang dipadu dengan kaos polo merah dengan sepatu manis bewarna coklat. Kalau mengingat warna tas dan jaket yang dia bawa sepertinya dia bukan tipe wanita yang modis. Tapi harus kuakui semua menyatu dengan manis.

Kueku tinggal satu gigitan saja saat wanita itu melenggang pergi, meninggalkan tanda tanya dan takjub dalam pikiranku. “Aku patah hati”. Ya aku patah hati oleh manusia yang wajahnya pun aku lupa, yang tidak memandangku walau jarak kami sangat dekat. Kulahap habis sisa kueku dan kembali berenang dalam kesibukan.

Di tengah kesibukan kuputuskan untuk kembali ke taman tadi, siapa tahu dapat kutemui lagi dia. Aku duduk beberapa saat hanya untuk menyadari bahwa ini adalah hal yang konyol. Kuputuskan kembali ke tempat kesibukanku berada dengan berjalan memutar. Rasanya seluruh tubuhku membeku sesaat saat kulihat baju merah dengan tas krem kehijauan. Dia berjalan di depanku dengan cepat meninggalkanku yang mematung di tengah trotoar yang ramai.

2 thoughts on “Sepatu coklat yang menempel di kepala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s