Kabut hidup semanis madu

Saat aku berjalan di taman surga yang dikelilingi pohon-pohon pinus, ditengah serak-serak daun berjari lima yang kering, ditengah kabut putih yang lembut, gadis manis itu tampak rapuh. Didekap kedua kakinya sambil memangku wajah diatas lututnya. Sesekali terdengar sesengukan, mungkin sisa itu sisa sisa tangis kesedihannya.

Kuitari dari jauh gadis manis berkerudung itu. Sekelilingnya terasa hangat. Ada aura kuat yang bukan aura orang biasa. Semangat kuat yang bukan semangat orang biasa. Itu  bukan kebimbangan kuat yang bukan kebimbangan orang biasa. Dalam hatiku berkata, gadis manis akan kuhapuskan kebimbanganmu dan hiduplah bersamaku berbagi kasih.

Langkah kakiku mendekatinya perlahan hingga daun-daun yang menguning dan kering mengikuti hikmat langkahku. Dia memandangku, pandangan itu seolah menembus jubahku langsung menghujam jantungku. Seolah mata itu melihat tarian syahdu hatiku akan dirinya. Wahai gadis manis, apa kau tahu maksud hatiku? Apa kau benar-benar mengartikan tarian hatiku? Kebimbangan itu telah merasuk padaku dengan mendamaikan jiwaku.

Gadis manisku, jiwa putihmu telah menyembuhkan hati yang terluka ini hanya dengan tatapanmu. Maukah kau pulang bersamaku dan berbagi kasih semanis madu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s