2 paragraf pagi 2 paragraf sore

waktu itu surya bersinar terang dipagi hari. Setelah aku sampaikan salam ke penghuni kos untuk berangkat kampus, aku diserang oleh sinar sang surya. Apa mau dikata, aku duduk di tempat duduk yang biasa dipakai anak kuliahan jurusan hukum. “Surya saat seperti ini sinarmu terang, tetapi hangat menyapu wajahku”, sapa ku padanya. Pagi ini aku berencana melihat seseorang yang menurut perkiraanku akan lewat jalan ini. Rindu rasanya tidak bercakap cukup lama, rasanya cukup melihat barang sedetik sudah cukup. Perkiraanku dia akan lewat sini sambil menikmati sang surya sama sepertiku, terbayang wajah segarnya yang dibelai sinar genit surya yang hangat. Terasa semangatnya yang menggelora melibas kemalasan pagi hari, ingin kutambah semangat buat tambahan bekal untuk kuis 15 menit lagi.
“Klik” bunyi handphoneku menyatakan ada pesan baru. Benar ternyata darinya, suatu kabar kurang sedap sepagi ini. Ternyata dia sudah sampai pada tempat tujuannya, sayang sekali aku tidak bisa mendapati wajahnya. Sudahlah, aku keluarkan bulpenku beserta kawan setianya selembar kertas putih yang jauh dari cantik (Lusuh). Aku goyang-goyang bulpen itu untuk membuat sebuah puisi cantik beserta catatan-catatan indah tentang pagi, surya dan tak ketinggalan namanya aku sematkan pada awal-awal kalimat indahku. Surya benar-benar genit dengan membuat bayangan bulpen beradu dengan induknya, membuat suatu kesar yang cantik. Kalau kawan sempan mencoba ataupun memperhatikan bayangan pucuk bulpen dengan induknya saat digunakan menulis, seperti meliheyang indah. Mengesankan.
Sorenya aku juga mencegat ditempat duduk anak kuliahan jurusan hukum, walau tempatnya bukan yang tadi (karena memang ada beberapa tempat duduk). Kali ini sang surya juga memancarkan sinarnya yang kali ini cukup hangat. Surya lebih hangat dari tadi pagi juga dengan kesar yang berbeda, walaupun begitu tetap terasa ramah. Dengan sinar yang seperti ini aku mengharap seseorang itu akan menyapa hatiku dengan wajahnya yang tersinar cahaya ramah surya, sehingga ramah senyumnya makin indah. Aku juga merasa ingin melihat langkah mu yang tak hiraukan apapun menciptakan bayang panjang sehingga bayang itu menyentuh ku, cukup sentuhan bayangmu saja. Oh indahnya kau yang ada di sana tanpa sadar rinduku.
“Klik” handphoneku mengabarkan kabar yang tidak terharapkan lagi. Dia sudah ditempat yang ditujunya, padahal menurut perkiraan dia lewat sini. Akhir-akhir baru aku tahu dia lewat jalan lain yang detilnya aku belum tahu. Huf huf huf makin gemas rasanya dengan bayangmu. Seperti paginya aku tidak lupa menulis saja apa yang aku rasakan dari sinar surya. Surya membantu menggarukan punggung ku yang rasanya terlalu banyak tidur.
Gio 21:54 15/06/2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s