Marah atau tidak?

Kejadian 6 Februari mengguncang Indonesia, sebuah isu lama yang kembali menjadi masalah. Penyerangan yang dilakukan sekelompok orang terhadap JAI (Jamaah Ahmadiyah Indonesia) mengingatkan kejadian beberapa waktu lalu yang membuat pemerintah membuat SKB 2 Menteri. SKB tersebut cukup membuat tenang keadaan (minimal di media massa) tentang pertikaian JAI. Sampai akhirnya pecahlah tragedi 6 Februari tersebut. Sebenarnya dimana letak keretakan yang mengakibatkan sampai terjadi hal ini (lagi) ?
Ada banyak hal yang dapat disoroti dari tragedi ini, mulai dari tidak efektifnya SKB, kondisi sosial daerah kurang kondusif sampai manipulasi politik. Bila mau membicarakan tentang Kondisi sosial daerah konflik tersebut, info yang saya dapatkan kurang. Bila mau mendalami dugaan manipulasi politik rasanya akan terlalu berlarut-larut tanpa suatu solusi yang dapat ditawarkan dan dikerjakan dengan mudah (rasanya ikatan politik lebih kuat daripada ikatan pernikahan🙂 ). Jadi ketidak efektifan SKB lah yang paling mudah saya selami. Dalam hal ini Saya cukup setuju dengan tulisan abah Shalahudin Wahid di kolom opini Kompas (09-02-11), bahwa hal ini disebabkan kurang efektif praktik pemanfaatan SKB 2 menteri.
SKB 2 mengandung banyak amanat bagi bangsa ini terlepas dari sudut pandang mana kita memaknai benar dan salahnya tiap point dari SKB tersebut. Dulu saat SKB ini diturunkan sukup membuat saya tersenyum lega karena konflik mulai reda dari permukaan (minimal media massa nasional). Rasanya masyarakat Indonesia mulai teryakinkan bahwa permasalahan JAI ini sudah terselesaikan dengan damai. Beriringan dengan hal itu masyarakat mulai melupakan isu yang sempat nge-pop tersebut. Sayangnya masyarakat dipaksa mengingat kembali kejadian tersebut.
Bagi sebagian besar masyarakat yang tidak bersinggungan langsung dengan pengikut JAI tentu isu ini akan mudah dilupakan. Seakan SKB memberikan jaminan bahwa mereka tidak akan terganggu ataupun merasa dilecehkan agamannya (bagi umat muslim) lagi. Bagi mereka sosialisasi yang dilakukan oleh media massa lewat pemberitaan-pemberitaan sudah cukup untuk membuat hati tenang. Sayangnya tidak begitu bagi sebagian kecil masyarakat yang dalam kehidupan sehari-harinya bersinggungan langsung maupun tidak langsung dengan pengikut JAI. Sosialisasi yang dilakukan media massa tentunya terasa kurang sesuai dengan yang mereka rasakan. Meredanya isu ini diranah publik nasional dan terus berjalan normalnya keseharian pengikut JAI makin memupuk pikiran dan rasa negatif bagi masyarakat sekitar. Seharusnya pemerintah melalui instansi yang berkepentingan terus memastikan agar masyarakat daerah sekitar konflik merasa pemikiran mereka tersalurkan dan merasa diperhatikan rasa ketidak nyamanan yang dirasakan.
Suatu hal yang sangat keliru bila pemerintah mendiamkan masalah setelah isu mereda did media masa.
Tragedi ini menghadirkan perubahan tren yang cukup signifikan di masyarakat umum. Pemberitaan di media massa yang sebelumnya membombardir masyarakat dengan berita tentang kasus mafia pajak, kini seakan terbelokan dengan cepat. Tak ada komentar lebih lanjut dengan masalah ini, hanya pesan bagi pembaca “jangan melupakan sesuatu dengan cepat”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s