Hemat energi dengan pembiasaan

Maaf tulisan ini sudah saya tulis beberapa bulan yang lalu (Desember 2007) Jadi mungkin sedikit tidak relevan dengan keadaan sekarang. Tulisan ini pada bulan tersebut saya edarkan di sekolah dan sempat majang di mading pramuka AKD (Ambalan Kartini Dewantara).

Telah lama kita sebagai manusia Indonesia dimanjakan dengan berbagai teknologi yang secara tidak langsung berperan besar terhadap krisis energi di Indonesia pada saat ini. Memang tidak bisa disangkal bahwa teknologi telah sangat menyatu dengan kehidupan kita. Tapi apakah kita harus diam saja dengan tidak mengendalikan diri untuk menguras cadangan energi yang kita miliki saat ini?

Maka sekaranglah saat yang tepat untuk melakukan segala sesuatu dengan berbagai pertimbangan.  Yang secara tidak langsung akan membuat hidup kita makin indah dan nyaman.
Ada banyak hal yang tidak disadari oleh sebagian besar warga negara indonesia tentang pentingnya bersosialisasi dengan menghemat energi. Ada berbagai contoh yang menggambarkan betapa pentingnya sosialisasi dalam hal melakukan penghematan energi.

Contoh pada penghematan pemakaian listrik, sebagian besar dari kita menghabiskan waktu dengan menonton TV. Kegiatan itu dilakukan pada jam-jam yang sama. Kita bisa menggunakan  waktu itu untuk saling berbicara dengan tetangga kita. Saling berbagi ide selain bisa menghindarkan kita dari pemakaian listrik juga bisa menjadi pemacu timbulnya ide-ide kreatif.

Contoh pada penghematan pemakaian BBM, jika kita mempunyai hubungan sosial dengan lingkungan dalam keadaan baik. Seharusnya kita akan saling menyapa jika saling berpapasan. dengan orang lain. Karena hal itu cukup menyenangkan kita akan terdorong untuk berjalan kaki untuk berpergian (dalam jarak yang tidak jauh) karena kita merasakan senyuman dari teman, tetangga dan orang lain saat berjalan.

Selanjutnya saya akan berikan satu bahan pemikiran yang mungkin bisa kita jadikan bahan pembicaraan dengan tetangga kita. Tentang kata-kata “lebih hemat mana” dan ini bisa anda jadikan bahan pertimbangan dalam melakukan sesuatu.

Lebih hemat mana memasak nasi dengan kompor gas, kompor minyak tanah atau magic jar (listrik).

Lebih hemat mana mesin diesel, mesin bensin atau mesin listrik.

Yang perlu diperhatikan adalah sifat relatifitas dari berbagai kasus di dunia nyata ini. Contoh dari kasus ini adalah penggunaan mesin diesel atau pompa air listrik di rumah dan di sawah. Keduanya tentu mempunyai jawaban yang berbeda sekali dan tentunya dengan pertimbangan yang jelas.

Untuk kebutuhan rumah tangga tentunya pompa air listrik lebih baik ukurannya yang kecil dan kecepatannya dalam menghadirkan air dengan cepat dan lebih mudah pengoperasiannya selain itu pastinya lebih hemat energi (dalam hal ini) karena akan lebih efisien dengan penggunaannya yang cenderung menyala – mati – menyala lagi – mati lagi.

Sedangkan untuk kebutuhan di areal persawahan tentunya mesin diesel lebih beralasan untuk dipakai karena akan menghadirkan banyak air dengan dengan sedikit sumber energi jika dibandingkan dengan pompa air listrik. Selain itu diesel akan menghadirkan air lebih cepat dalam volume banyak seperti yang dibutuhkan para petani. Lagi pula penggunaannya yang sekali menyala langsung selesai juga tepat digunakan disini.

Point ini yang paling terakhir saya tulis tapi bukan suatu pertimbangan terakhir yaitu kondisi negara kita. Saya rasa kita sering mengatas namakan diri sendiri sebagai rakyat kecil, bawah, lugu dan lain-lain untuk menuntut berbagai hal mulai dari “turunkan harga minyak tanah, bensin, solar dll”. Ini mungkin juga salah dari pemerintah daerah kita yang kurang mensosialisasikan keadaan bangsa dengan jelas. Tapi pernahkah kita sadar bila harga bensin turun berarti itu disubsidi. Subsidi menggunakan uang yang tidak kecil. Kalau uang kita hanya digunakan untuk subsidi BBM yang akhirnya banyak kita hambur-hamburkan apa itu bermanfaat.

Ada lagi, Kita sering meminta minyak tanah untuk turun harga padahal minyak tanah itu di subsidi tinggi sekali jadi harganya jauh lebih murah dari harga di negara lain. Karena kita sudah terbiasa menghamburkan minyak tanah. Bangsa hampir kehabisan uang untuk mensubsidi minyak tanah dan karena itu pemerintah mungkin akan meniru negara lain. Di amerika minyak tanah dijual seperti thinner (kalengan, dan bahkan ini sudah terjadi) jadi sudah tidak ada lagi kata-kata “minyak tanah 10 liter!” , dan fungsinya di kompor anda akan diganti dengan LNG yang lebih banyak cadangannya dan tentunya lebih sedikit subsidi yang disediakan pemerintah.

Semoga tulisan saya ini dapat anda pahami dengan baik dan yang paling penting kita menjadi sadar untuk hidup dengan hemat dan bijaksana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s