Mampukah kita membangun bangsa

Teringat kemarin (1 Minggu yang lalu) saat saya pulang sekolah naik kol (kendaraan umum) saya berjumpa dengan seorang laki-laki (saya taksir berumur sekitar 35 tahun). Saya memberanikan untuk menyapanya, berikut percakapan saya (sebagian saya karang kerena lupa tetapi tanpa merusak isi):

saya: Saking pundi pak (Dari mana pak)
Bapak: Teko manjing le (Dari bekerja nak)
saya: Mandhap pundi pak? (Turun mana pak?)
Bapak: Neng Sambi le! Lha awakmu medhuk neg ndi? (Turun sambi nak, Lantas kamu turun dimana?)
saya: Kulo prapatan bale desa Susuhbango (Saya turun balaidesa Susuhbango)
………(terlalu panjang)
Bapak: Le awakmu lek sekolah seng tenanan! sing enom seng mbangun negara (Nak kamu kalau sekolah yang sungguh-sungguh, yang muda yang membangun )
saya: Nggih pak! (Ya pak)
Bapak: Ngeneki seng wes tuwek wes ora kuat mbangun negara. (Yang sudah tua seperti saya sudah tidak kuat membangun negara)
………

Ironis sekali bukan apa yang bapak ini katakan, saat dia berkata seperti itu saya sempat berniat memarahi orang itu. Saya sudah tidak kuat mendengar kata-kata orang itu, bayangkan saja siapa yang tidak gerah mendengar ucapan orang itu. Aku sih nggak akan marah kalau dia menasehati aku seperti itu yang jadi masalah adalah kenapa dia merasa menyerah dalam membangun negaranya sendiri.
Dalam pikiran saya -> Saat ini pasti banyak orang lain yang seperti bapak ini. Karena masalah ekonomi merasa sudah lepas tangan dalam nasib negara kita, mereka tidak sadar bahwa mereka juga adalah bagian dari NKRI. Bapak yang satu ini bekerja di bongkaran sayur (pasar grosir sayur dan buah ngronggo). Kita sering mengoreksi para pemuda tentang kurangnya nasionalisme mereka terhadap negara kita. Wujudnya kebanyakan aktifis-aktifis cinta tanah air adalah pemuda, seakan kita melupakan bagaimana para petani, abang becak, kuli bangunan dan pekerja kasar lainnya atau bahkan para juragan tanah melupakan apa arti pembangunan.
Dalam benak mereka pembangunan adalah suatu tugas pak presiden lewat gubernurnya agar memerintahkan bupati dan walikota membangun jalan, membangun wc umum dan lain sebagainya. Memang dapat diakui kurang pendidikan formal yang mereka jalani membuat mereka mempunyai pikiran yang sempit bahkan menjurus ke (maaf) picik. Mereka hanya memikirkan bagaimana bisa makan, tidur dan hidup dengan nyaman tanpa memikirkan kerja keras pemimpin negara dalam menjalankan tugasnya. Mereka hanya berfikir tentang BBM murah = Hidup enak (udahlah masalah BBM dibahas di tulisan lainnya).
Langsung saja saya utarakan maksud dari tulisan ini adalah ajakan bagi semua orang baik tua, muda, sibuk ataupun menganggur untuk tetap memikirkan bagaimana cara (minimal) diri sendiri berkontribusi kepada NKRI yang tercinta. Banyak hal kecil yang mungkin mereka lakukan tetapi tidak disadari manfaatnya. Menyekolahkan anakpun adalah suatu perjuangan untuk membangun bangsa bahkan dengan berdoapun kita sudah berusaha memajukan bangsa.
Kita sudah melakukan berbagai macam hal yang belum kita sadari manfaatnya. Ingat berfikir detail tentang kemungkinan-kemungkinan masadepan akibat perbuatan kita bukanlah hal yang percuma. Berkata tidak bisa adalah musuh utama yang harus kita tumpas habis. Ayo dong pak anda belum habis, masih hal yang bisa anda berikan kepada bangsa tercinta ini!

One thought on “Mampukah kita membangun bangsa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s