Tag

, , , , ,

Saya cukup terperanjat kaget saat dalam suatu forum tidak ada yang mengerti tentang Metode Ilmiah. Padahal dalam forum itu berisi mayoritas mahasiswa yang akrab dengan bidang penalaran. Tetapi ternyata miskonsepsi tentang metode ilmiah sudah sangat melenceng jauh.

Saat saya melontarkan tentang metode ilmiah, tanggapan yang langsung keluar dari peserta forum memberikan pandangan yang sangat sempit. Metode ilmiah dicitrakan dengan penelitian-penelitian ilmu eksakta yang membosankan. Ok sudah cukup, berarti banyak yang sudah keblinger memandang metode ilmiah.

 Apa benar seperti itu?

Bila dikatakan metode ilmiah memiliki hubungan dengan penelitian-penelitian eksakta, yap benar sekali. Tetapi yang harus menjadi garis bawah adalah bukan hanya itu. Metode ilmiah bukanlah suatu istilah yang mensyaratkan suatu output secara explisit. Metode ilmiah hanyalah suatu urutan proses yang harus dilakukan untuk menghasilkan suatu karya ilmiah.

 “Apa itu karya ilmiah ? Suatu karya boleh dikatakan ilmiah bila proses pembuatan karya harus mengikuti kaidah-kaidah ilmu pengetahuan antara lain berdasarkan bukti yang empiris dan terukur melalui prinsip penalaran yang spesifik”

 Metode ilmiah adalah suatu urutan kerja yang dibuat dan disepakati -hampir- semua ilmuwan untuk membuat suatu karya ilmiah. Kenapa suatu urutan kerja ini disepakati? Karena harus disadari bahwa kecenderungan personal (kepercayaan, agama, dan budaya) seorang ilmuwan akan mempengaruhi interpretasi akan suatu fenomena. Oleh karena itu diperlukan suatu metode umum yang digunakan untuk memperkecil pengaruh kecenderungan tersebut.

 Pembahasan singkat metode ilmiah

Rasanya tidak bertanggung jawab kalau saya tidak memberikan penjelasan tentang urutan kerja dalam metode ilmiah. Metode ilmiah memiliki empat tahap utama yaitu :

  1. Observasi dan pendeskripsian fenomena

  2. Pembuatan hipotesis

  3. Prediksi

  4. Experimen / tes

  1. Observasi dan pendeskripsian fenomena

Dalam tahap inilah seorang ilmuwan mulai menyusun pertanyaan-pertanyaan kritis akan suatu fenomena. Pertanyaan yang dihasilkan akan menjadi titik tolak untuk mencari informasi lebih lanjut akan fenomena yang diamati. Informasi yang biasa dicari adalah karakterisitik dan definisi dari berbagai aspek yang meliputi fenomena yang ada.

Dalam tahap inilah biasanya kawan-kawan melakukan identifikasi masalah.

  1. Pembuatan Hipotesis

Hipotesis adalah penjelasan awal yang dibuat ilmuan untuk suatu fenomena yang terjadi. Banyak orang mengatakan bahwa hipotesis adalah tebakan pintar dari suatu fenomena. Pembuatan hipotesis awal mengijinkan seorang ilmuwan untuk menggunakan cara apapun. Gunakan ide gila kawan-kawan, boleh juga mendasarkan diri pada berbagai bahan yang telah Anda kumpulkan. Satu catatan penting adalah jangan lupa untuk membuat hipotesis awal anda dapat dites.

  1. Prediksi

Setelah suatu hipotesis terbentuk tentunya dapat digunakan untuk melakukan prediksi akan berbagai hal yang berhubungan dengan fenomena.

Contohnya :

1. Hipotesis => Oksigen terkandung di dalam zat cair

Prediksi => Manusia dapat menghirup zat cair saat bernafas

2. Hipotesis => Kepala suku memiliki pengaruh terhadap kehidupan setiap keluarga

Prediksi => Kepala suku dapat memerintahkan seorang lelaki menceraikan istrinya

  1. Experimen / tes

Pada tahap inilah dilakukan pembuktian dari suatu prediksi. Experimen maupun test dapat berupa pengumpulan data dilapangan, percobaan disuatu lingkungan laboratorium yang terkontrol ataupun berupa studi fenomenologi.

 Kesalahan konsepsi pihak yang lain

Karena salah salah pengertian yang terjadi diawal tadi, banyak kawan-kawan saya jadi meremehkan penting metode ilmiah. Mereka memandang karya ilmiah yang beredar dikalangan mahasiswa hanyalah sampah yang tidak melewati proses penalaran yang dalam. Saya tidak dapat menyalahkan mereka juga, karena kebanyakan karya ilmiah keluaran mahasiswa hanyalah proyek tidak berkualitas secara keilmuan.

Pada dasarnya untuk mempraktikan metode ilmiah harus dibekali penalaran yang baik. Pemahaman akan Falsafah ilmu pengetahuan, logika hingga praktik dialektika yang kuat adalah syarat dasar seseorang mampu menjalankan metode ilmiah dengan baik. Inilah yang sering dilupakan oleh kawan-kawan saya yang produktif membuat karya-karya ilmiah.

Sehingga koreksi yang harus dilakukan adalah bagi kawan-kawan yang selama ini membuat karya ilmiah tetapi tidak paham tentang dasar berpikir yang baik maka cepatlah bertaubat. Sudah cukup kawan-kawan saya muak dengan karya tulis sampah yang tidak diolah dengan pemikiran yang dalam. Minimal pahami falsafah ilmu pengetahuan, logika formal dan proses dialektis. Sehingga hasil karya ilmiah yang dihasilkan menjadi lebih berbobot.

 Wajib dimengerti

Bagi mahasiswa penalaran maupun masyarakat ilmuwan metode ilmiah hukumnya wajib untuk dimengerti. Bukan hanya ini adalah patokan dasar seorang ilmuwan untuk menghasilkan karya ilmiah, tetapi karena urutan kerja pada metode ilmiah berlaku untuk hal yang lebih umum. Seorang yang berpikir kritis seharusnya memiliki acuan berpikir yang jelas, sehingga buah pikirnya berkualitas.

 Sekarang seharusnya pandangan akan metode ilmiah lebih luas dan jelas. Metode ilmiah hanyalah urutan kerja semata. Keluaran karya berupa penelitian di bidang eksakta ataupun sosial tentu tidak dibatasi oleh metode ilmiah.

Gian Giovani

Sumber :

[0] www.sciencebuddies.org/blog/2010/02/a-strong-hypothesis.php

[1] en.wikipedia.org/wiki/Phenomenology_(philosophy)

[2] Scientific Method in the Social Sciences, Paul Zeiger

[3] en.wikipedia.org/wiki/Scientific_method

[4] teacher.nsrl.rochester.edu/phy_labs/AppendixE/AppendixE.html

About these ads